Nabila Nurjanida

I am 20 years old girl who suffered Motor Neuron Disease #MND
In this blog, I'll post about this disease, me, family, and friends.
Welcome to my Tumblr :D

Ask me | Submit
10:48 PM
July 30th, 2011

Selamat tinggal! Eh, salah! Sampai jumpa!

Tulisan ini sudah 3 tahun yang lalu saya tulis. Sudah di publish oleh adik saya atas permintaannya di facebooknya dan kaskus. Kali ini akan saya publish sendiri tulisan ini. Tulisan ini teruntuk Almarhumah Eci. Hari ini, tepat 3 tahun sudah kepergiannya. Semoga kamu tenang disana ya Eci, kami selalu mendoakanmu.

            Kami hanya dapat duduk di atas trotoar sambil menatap gelapnya langit. Kejadian itu terus-menerus terbayang dalam pikiran kami. Wajah kami semua sembab, pucat pasi dengan bekas sekaan air mata dipipi kami. Tak ada satupun diantara kami yang membuka mulut untuk berbicara. Kami semua terlihat seperti orang yang putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali diam menundukkan kepala. Perlahan, langit mulai meneteskan air matanya. Tanda ikut bersedih.

            Aku bangkit lalu berjalan menuju masjid, mengambil air wudhu dengan perasaan yang campur aduk. Aku dapat merasakan dia di sampingku. Namun aku tak peduli, aku sangat ingin menenangkan diriku dengan shalat maghrib. Aku merasa tak dapat berkonsentrasi, bahkan dalam shalatku. Tiba-tiba saja aku tak tahu harus membaca apa dalam shalatku. Kejadian itulah yang justru selalu membayangi pikiranku. Tanpa membiarkan otakku untuk beristirahat sejenak.

            Selepas shalat, aku kembali ke bagian depan untuk bergabung dengan yang lainnya. “Udah shalat lo, Bil?”, tanya Raty saat aku duduk di sampingnya. Aku hanya dapat mengangguk dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya. Aku melihat handphoneku, low batt. Sementara ada dua panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang belum sempat kubaca. Aku membaca pesan itu sekilas lalu langsung menghapusnya. Aku melempar ringan handphoneku ke aspal. Termenung sebentar, lalu aku meraih handphoneku kembali. Aku mencari kontak di phonebook, “Mama”, lalu menekan tombol memanggil. Tak berapa lama, kudengar jawaban, “Halo, kamu dimana, Ka?”, suara lembut diwarnai kekhawatiran menyahut panggilanku.

            Aku membuka mulutku, namun tak ada suara yang keluar, aku tak sanggup bicara satu patah kata pun. Tetes demi tetes air mata kembali membasahi pipiku.

 

                                                  ***

 

            Apakah sebaiknya aku istirahat dirumah hari ini? Pertanyaan itu terus terlintas dibenakku. Namun aku sudah setengah perjalanan menuju kediaman Mahdi. Kami semua berkumpul disana sebelum berangkat. “Son, lo nggak pa-pa tuh jadi ngebatalin janji sama cewe lo?”, tanyaku memecah kebisuan di antara kami. Maklum saja, tadi aku sedang terhanyut dalam pikiranku sendiri. “Nggak pa-pa kok, Bil. Lagian gw pengen banget ikut! Pengen jalan-jalan jauh kayak gini!”, jawaban Sony terdengar samar karena ia memakai helm. Kami hanya mengobrol ringan sepanjang perjalanan ke rumah Mahdi. Begitu sampai, aku melihat sudah ada dua orang yang duduk di halaman rumah Mahdi. Setelah setengah jam berkumpul, akhirnya kami semua memulai perjalanan. Aku, Sony, Edo, Raty, Mahdi, Ii, Aril, Rivo, dan Eci. Kami semua memulai konvoi ke Pelabuhan Ratu. Aku bersama Sony, Edo bersama Raty, Rivo bersama Eci, Mahdi bersama Ii,  sedangkan Aril sendiri, tak membonceng siapapun.

            Namun baru saja sampai di lampu merah Empang, ada sebuah motor yang lupa menginjak rem, sehingga menabrak bagian belakang motor Vixion yang kutumpangi bersama Sony. Untunglah tidak terjadi apa-apa dan Sony dapat menjaga keseimbangan sehingga kami tidak terjatuh. “Hahaha! Belum apa-apa udah tabrakan!” , ujar Rivo yang kebetulan bertepatan di samping motor kami. Kami pun hanya tertawa. Perjalanan pun berjalan lancar dan menyenangkan, walaupun sempat saling tunggu karena ada yang tertinggal jauh. Jalan yang berlika-liku, dengan ribuan pohon rindang di sekeliling kami, membuat kami sangat menikmati perjalanan. Setelah tiga jam perjalanan tanpa istirahat kecuali saat kami semua mengisi bahan bakar yang sengaja diisi full tank untuk keamanan dan kenyamanan perjalanan, akhirnya kamipun dapat mencium udara pantai. Rasanya ingin sekali aku berdiri di atas motor untuk lebih merasakan angin pantai, namun itu terlalu berbahaya.

            Kamipun memilih singgah di pantai pertama yang kami lihat setelah pasar ikan, karena kami sudah terlalu lelah dan ingin segera berenang beriringan dengan ombak.

“Lapeeeeeeeer gileeeeeee gw!!!”, seru Edo sambil meregangkan tangan dan kakinya. Aku mengeluarkan sebotol air mineral, Edo mengeluarkan satu plastik buah salak yang dibawanya dari rumah beserta satu toples kue yang dicurinya dari ruang tamu rumah Mahdi. “Eh, tuh toples kudu balik ye! Emak gw ampe sms nih nanyain tu toples!”, seru Mahdi pada Edo yang sedang mengupas buah salak dengan semangat ’45. Setelah beristirahat beberapa saat, kami mengumpulkan uang untuk membeli nasi bungkus di warteg. Sayangnya, kami lupa bahwa semua harga di Pelabuhan Ratu pastinya lebih mahal dibanding harga di kota.

            Setelah uang terkumpul, aku dan Ii pergi mencari warteg. Ternyata, warteg terdekat saja jaraknya sekitar 1 km. Aku memesan sembilan nasi bungkus dengan lauk telur. Aku harus mengakrabkan diri dengan Ibu warteg untuk menawar harga dan mendapatkan sembilan bungkus teh pahit. Alhasil, aku harus menjinjing dua plastik hitam besar di tanganku. Namun, saat perjalanan pulang, motor kami terjatuh, untung saja kami berdua tidak terluka. Hanya saja, rasa ganjal dan perasaanku yang sejak awal tidak enak bertambah. Namun aku menampik perasaan itu. Aku pergi ke Pelabuhan Ratu, untuk bersenang-senang, untuk melepas stress, untuk melepas penat dan lelah mempersiapkan Big Camp selama ini.

            Ii mengendarai motornya lebih cepat karena ia sudah sangat lapar. Begitu kami sampai, semua langsung menyambar makanan yang kubawa. Mahdi dan Aril yang tadinya sedang menerapkan capoeira mereka di atas lembutnya pasir pantai pun langsung berlari untuk makan. Bodohnya, aku baru menyadari bahwa tasku tertinggal di warteg tadi! Aku langsung menarik Sony untuk menemaniku mengambil tas. Sony mengendarai motor dengan pelan karena ia lupa menggunakan jaket. Walau matahari bersinar dengan teriknya, namun udaranya tetap saja dingin. Untung saja tasku tetap utuh. Namun begitu ketika kami sedang dalam perjalanan kembali ke pantai, Edo menelpon dan meminta kami membelikan satu bungkus nasi lagi untuk Eci, karena nasinya tumpah.

            Aku dan Sony pun langsung memutar balik ke warteg tadi. Karena telurnya sudah habis, aku membelikannya ikan. Begitu sampai di pantai, aku melihat yang lainnya sudah asik berenang di pantai. Aku, Sony, dan Eci langsung duduk bersama di atas pasir pantai untuk menyantap nasi bungkus. “Lo suka ikan nggak, Ci? Tadi telurnya udah abis”, tanyaku.

Eci menggelengkan kepalanya dengan memelas, “Gw kurang suka ikan…”, ujarnya.

“Yauda, tukeran sama gw aja, Ci!”, ujar Sony.

Setelah bertukar lauk, kami pun mulai makan. “Anak-anak pada bawa baju ganti nggak tuh berenang kaya gitu?”, tanyaku bingung. Jujur saja, aku ingin sekali ikut berenang.

“Kagak, katanya ntar pada pengen basah-basahan aja. Hahaha…”, jawab Eci.

            Entah mengapa, rasa laparku yang tadi begitu menggelora tiba-tiba hilang. Sehingga aku tak sanggup menghabiskan makananku. Hal yang sungguh sangat jarang terjadi. Setelah meregangkan perutku sebentar, aku membulatkan tekadku untuk ikut berenang dengan yang lainnya. Sementara, Rivo, Eci, dan Sony lebih memilih pakaian mereka kering. Aku, Raty, Edo, Mahdi, Ii, dan Aril berjalan bergandengan tangan, menuju tempat yang lebih dalam untuk menikmati hempasan ombak. Kami beberapa kali tenggelam, namun tetap saja tak kapok menyambut ombak yang lebih besar. Walau kami terseret ke bagian dangkal lalu terseret kembali ke bagian dalam, kami tak melepaskan genggaman tangan kami. Tak berapa lama, Eci menghampiri kami, namun hanya di bagian dangkalnya saja. Kami semua dengan kompak menyeret Eci ke tengah hingga seluruh tubuhnya basah. Dia hanya tertawa sambil berkata, “Asin, keasinan, asin, keasinan!”

            Tak lama kemudian, Sony pun ikut bergabung dengan kami, sementara Rivo tetap memilih menjaga tas. Setelah puas melawan ombak, kami main lempar-lemparan pasir pantai yang basah. Kami semua saling berkejaran untuk melempar pasir. Tak terasa, sudah cukup sore, sehingga kami harus mengakhiri permainan kami. Setelah selesai membilas badan, kami semua berkumpul. “Woy! Kita foto yang terakhir yuk!”, seru Eci semangat. Kami semua pun berfoto untuk terakhir kalinya di Pelabuhan Ratu.

            Setelah itu, kami semua langsung berjalan bersama menuju tempat parkir. Aku memandang laut di Pelabuhan Ratu untuk terakhir kalinya. Saat perjalanan pulang, Soni mengendarai dengan kecepatan tinggi, kami dan motor seakan sudah menyatu dengan jalanan aspal. Kami kembali melewati jalan yang berlika-liku dengan pepohonan di sekitarnya. Setelah setengah jam perjalanan, ada sebuah ambulans lewat dengan membunyikan sirenenya. “Son, ada ambulans. Tandanya hati-hati!”, ujarku pada Sony. Saat itu Sony langsung memelankan lajunya. Lalu di sebuah tikungan, ada sebuah bus yang berjalan lambat, kami pun mendahuluinya. Aku dan Sony yang tadinya di urutan pertama, terkejar oleh Aril, kemudian Rivo, lalu Mahdi.

            “Son, ntar anterin gw sampe rumah ya! Soalnya gw basah gini!”, ujarku pada Sony. Sony pun mengiyakan, namun entah mengapa terlintas perasaan bahwa aku tidak akan pulang hari ini. Tak berapa lama, aku melihat sebuah motor di depan terpental karena menabrak mobil Zebra biru dari arah berlawanan. Dan dua penumpangnya terpental ke tengah jalan. Saat itu aku hanya bisa terpana. Itu temen gw? Itu temen gw? Mata kami semua terbelalak tak percaya. Baru saja Sony menepikan motornya, aku melihat sebuah motor dari arah berlawanan yang tidak sempat menginjak rem dan dengan kecepatan tinggi melindas tubuh Eci. Aku segera turun dari motor. Aku hendak menghampiri Rivo, namun mentalku tak cukup kuat untuk melihat tulang kaki kanan Rivo yang mencuat keluar. Semua disana panik. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku dan Mahdi mendampingi Eci di mobil menuju puskesmas terdekat. Aku menggenggam tangan Eci sepanjang perjalanan. Air mata hendak menetes. Namun tak kuasa keluar. Tak mungkin aku menangis di depan seseorang yang seharusnya kuberi semangat hidup. Darah terus keluar dari mulut Eci. Aku tahu itu berarti ada luka dalam yang cukup parah. Aku dan Mahdi mencoba mempertahankan kesadarannya.

            “Eci…lo kuat, Ci! Lo kuat, Ci! Lo bakal bae-bae aja, Ci!”, seruku dan Mahdi berulang-ulang. Sesampainya di puskesmas, Eci dan Rivo langsung dilarikan ke dalam. Namun aku merasa sangsi akan fasilitas disini. Aku dan yang lainnya hanya bisa duduk dengan wajah pucat pasi. Ingin sekali menangis namun rasanya tak kuasa. Kami masih sangat shock dengan apa yang terjadi. Tak berapa lama, Eci mengeluh kesulitan bernafas. Kami pun segera melarikannya ke rumah sakit yang terdekat dengan menggunakan angkot. Mahdi dan Sony yang menemani Eci ke rumah sakit. “De, itu temennya yang satu lagi kan cuma patah tulang, ntar dia mau dibawa ke bawah, ada yang bisa ngurutnya disini..”, ujar seorang Bapak yang tak kuketahui namanya.

            Seketika itu, emosiku langsung naik, “Pak, itu bukan cuma patah tulang biasa Pak! Itu patah tulang tungkai terbuka! Saya ngeliat sendiri Pak, tulangnya tadi mencuat keluar! Dia tetep kita bawa ke rumah sakit!”, seruku dengan nada sedikit membentak. Bapak itu mencoba mempertahankan argumennya, namun akhirnya aku yang menang. Kami segera melarikan Rivo ke rumah sakit, menyusul Eci. Ternyata jarak rumah sakit terdekat saja 45 menit dari puskesmas tersebut. Sepanjang perjalanan, Rivo terus-menerus menanyakan keadaan Eci. Begitu sampai di rumah sakit, aku tak peduli akan peraturan, aku menembus masuk ke dalam UGD. Aku mencari Mahdi, Sony ataupun Eci, namun tak satupun dari mereka terlihat batang hidungnya. Edo menitipkan handphonenya padaku karena ia hendak membantu perawat mengangkat Rivo. Aku melihat sekeliling, fasilitas disini sangat jauh dari memadai. Bahkan untuk pertama kalinya aku melihat rumah sakit yang seperti ini. RSUD Sekarwangi, Cibadak.

            Ada pesan masuk ke handphone Edo, karena aku takut itu pesan penting, aku membacanya. Pesan dari Mahdi.

“Demi Allah!!”

Aku tak mengerti apa maksud Mahdi, tapi perasaanku semakin tidak enak. Saat itu juga aku langsung mengambil handphoneku dan menghubungi Mahdi.

“Lo dimana?” , tanyaku khawatir.

“Lo dimana?”, Mahdi justru balik bertanya padaku.

“Gw di depan UGD!”

“Yauda, sekarang gw lari kesana!”

            Mahdi langsung menutup teleponnya. Tak berapa lama kemudian, bukan Mahdi yang muncul, melainkan Sony. Ia menghampiriku dengan nafas yang terengah-engah.

“Bil, ini….” Sony menyodorkan uang sejumlah Rp. 50.000,00 padaku. “Ini uang terakhir Eci. Sekarang Eci ada di belakang. Di kamar mayat. Kalo lo mau liat, lo…ke belakang aja..”

Aku hanya dapat tercengang mendengarnya. Lalu mengambil uang itu , dan menyimpannya rapi di saku jaketku. Masih terasa butiran-butiran pasir menempel pada uang itu. Lalu aku langsung berlari ke arah belakang rumah sakit. Saat berlari, air mataku mengalir dengan deras. Aku benar-benar tak percaya! Aku tak percaya! Di depan kamar mayat, banyak orang yang berkumpul mengelilingi, penasaran akan apa yang terjadi. Aku menghampiri Mahdi yang sedang diinterogasi polisi dan petugas rumah sakit.

            “Eci mana?”, tanyaku lemas.

“Dia lagi dimandiin Bil, di dalem”, jawab Mahdi. Kulihat mata Mahdi pun merah. Kelihatan sekali ia mencoba menahan air matanya. Aku memandangi pintu putih itu. Tak tahu harus bagaimana. Setelah beberapa saat, kami semua kembali berkumpul di depan UGD.

“Rivo, dia jangan dikasih tau dulu! Keadaan dia bisa tambah parah kalau tau Eci meninggal”, ujar Mahdi. Kami pun setuju dengan Mahdi. Kami kebingungan bagaimana menghubungi orang tua Eci, karena tasnya yang berisi handphone hilang di TKP. Akhirnya, kami meminta bantuan sekolah untuk menghubungi orang tua Eci. Kami membicarakan banyak hal, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Termasuk kemungkinan jika kami dikeluarkan dari sekolah, di penjara, di maki dan dituntut oleh orang tua Eci. Aku menengok sebentar ke dalam UGD untuk mengetahui kondisi Rivo. Kaki kanannya kini telah dipasangi bidai.

            Aku melihatnya sebentar dari jauh, kemudian menghampirinya. Dia menanyaiku bagaimana keadaan Eci. “Dia bae-bae aja ko..”, jawabku tanpa berani memandangnya. Setelah itu aku langsung ke luar ruangan. Aku takkan sanggup lagi membendung air mata jika ia bertanya lebih banyak hal. Aku kembali bergabung dengan yang lainnya.

                                                  ***

            Kami hanya dapat duduk di atas trotoar sambil menatap gelapnya langit. Kejadian itu terus-menerus terbayang dalam pikiran kami. Wajah kami semua sembab, pucat pasi dengan bekas sekaan air mata dipipi kami. Tak ada satupun diantara kami yang membuka mulut untuk berbicara. Kami semua terlihat seperti orang yang putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali diam menundukkan kepala. Perlahan, langit mulai meneteskan air matanya. Tanda ikut bersedih.

            Aku bangkit lalu berjalan menuju masjid, mengambil air wudhu dengan perasaan yang campur aduk. Aku dapat merasakan dia di sampingku. Namun aku tak peduli, aku sangat ingin menenangkan diriku dengan shalat maghrib. Aku merasa tak dapat berkonsentrasi, bahkan dalam shalatku. Tiba-tiba saja aku tak tahu harus membaca apa dalam shalatku. Kejadian itulah yang justru selalu membayangi pikiranku. Tanpa membiarkan otakku untuk beristirahat sejenak.

            Selepas shalat, aku kembali ke bagian depan untuk bergabung dengan yang lainnya. “Udah shalat lo, Bil?”, tanya Raty saat aku duduk di sampingnya. Aku hanya dapat mengangguk dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya. Aku melihat handphoneku, low batt. Sementara ada dua panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang belum sempat kubaca. Aku membaca pesan itu sekilas lalu langsung menghapusnya. Aku melempar ringan handphoneku ke aspal. Termenung sebentar, lalu aku meraih handphoneku kembali. Aku mencari kontak di phonebook, “Mama”, lalu menekan tombol memanggil. Tak berapa lama, kudengar jawaban, “Halo, kamu dimana, Ka?”, suara lembut diwarnai kekhawatiran menyahut panggilanku.

            Aku membuka mulutku, namun tak ada suara yang keluar, aku tak sanggup bicara satu patah kata pun. Tetes demi tetes air mata kembali membasahi pipiku.

 “Ma….”, ujarku lirih.

“Kenapa Ka?”, suara Ibuku terdengar semakin khawatir.

“Temen aku…Temen aku kecelakaan, Ma. Paraaah…”

“Innalillahi…Trus sekarang mereka gimana, Ka? Kamu dimana sekarang?”

“Ma…Rivo, kaki kanannya…Patah tulang tungkai terbuka, Ma…”, Isakku semakin parah. Aku tak sanggup mengatakan hal itu. “Ma..yang satu lagi..”, aku diam sejenak untuk menghela nafas, pipiku sudah dipenuhi air mata. “Yang satu lagi meninggal, Ma…Eci meninggal…”, tangisanku semakin membuncah. Aku benar-benar tak kuat membendung air mataku.

“Meninggal? Innalillahi wa Innalillahi raji’un…”

“Ma, aku nggak akan pulang hari ini. Ma, udah dulu ya.. aku..”

            Pembicaraan pun terputus karena handphoneku mati. Aku menggenggam erat handphoneku. Aku bersandar pada dinding, karena yang lainnya juga sibuk dengan telepon masing-masing. Beberapa guru dan orang tua tak henti-hentinya menelpon. Bu Irma dan Pak Ramdhan pun tak hentinya menghubungiku tadi. Namun sekarang handphoneku benar-benar tak dapat dinyalakan. Aku benar-benar tak menyangka. Tadi terakhir kalinya Eci makan bersama kami. Aku tak menyangka, foto itu benar-benar menjadi foto terakhirnya. Aku tak menyangka, nasinya yang tumpah merupakan pertanda untuknya. Rasanya tak percaya! Benar-benar tak percaya! Ya Allah, aku sangat berharap terbangun dari mimpi buruk ini! Namun ini semua bukanlah mimpi. Rasanya tak percaya mengingat baru saja tadi sore kami main dan tertawa bersama. Namun kini, ia telah ditutupi kain kafan. Allah lebih menyanyanginya, sehingga memanggilnya lebih cepat.

 

                                                   ***

            Aku hanya dapat duduk termenung menatap keluar jendela. Remang-remang cahaya dan suara lalu lalang kendaraan, menghempas sepinya malam. Malam yang gelap dan terasa sangat panjang. Kini aku sedang duduk disebuah ambulans menuju ke Bogor. Wajahku pucat pasi, dengan mata sembab. Berusaha tak meneteskan air mata walaupun bayangan kejadian itu terus membayangi pikiranku. Rivo yang tadi sibuk dengan handphonenya, kini telah terlelap, terkadang ia meringis karena sakit di kakinya. Sebelumnya, beberapa kali ia menanyakan tentang Eci padaku. Setiap kali menjawabnya, aku mencoba untuk tersenyum dan mengatakan bahwa Eci baik-baik saja dan sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Ingin sekali rasanya aku dapat tertidur saat ini, lalu terbangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. Namun setiap kali kupejamkan mata, kembali terbayang saat motor mereka terpental dan tubuh Eci terlindas.

            Perjalanan ke PMI Bogor terasa sangat panjang. Begitu sampai di depan UGD, aku melihat beberapa orang telah menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran. Namun aku tak tahu yang mana orang tua Rivo. Aku turun dari ambulans. Seorang wanita langsung menghampiri Rivo, kupikir mungkin itu Ibunya. Seorang wanita setengah baya menghampiriku. “Kamu temennya Rivo? Ikut kesana juga?”, tanya wanita itu. Aku hanya menganggukkan kepala. “Nama kamu siapa?”, tanyanya lagi.

“Nama saya Nabila”, jawabku singkat.

“Kejadiannya gimana? Oh iya, saya Tantenya Rivo”, wanita itu merangkul pundakku, lalu mengajakku menjauh dari ambulans. Aku pun menceritakan kronologis kejadian yang kulihat. Wanita itu menutupi wajahnya kemudian menangis.

“Lalu gimana keadaan anak yang diboncengnya?”, tanya wanita itu lagi. Aku menghela nafas. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata. “Maaf Tante, masalah itu, lebih baik nanti kita bicarakan bersama-sama kalau semua anggota keluarga sudah berkumpul. Saya nggak bisa ngasih tau sekarang”, ujarku mantap. Aku sudah sangat lelah, sehingga tak ingin memberikan penjelasan berulang-ulang. Lagipula jarakku dan Rivo tak begitu jauh, aku tak mau ia mendengarnya. Setidaknya, belum saatnya ia mengetahui bahwa Eci telah tiada.

            Aku dipanggil oleh seorang wanita lainnya, lalu ia memperkenalkan diri sebagai Ibu dari Rivo. Seorang perawat menghampiriku untuk mendapatkan keterangan mengenai kronologis kejadian. Ia bertanya tentang kecepatan kendaraan Rivo dan kecepatan mobil yang menabraknya. Lalu pertolongan pertama yang diberikan. Selang waktu dari kecelakaan hingga Rivo mendapatkan pertolongan pertama. Tak berapa lama, barulah Rivo dimasukkan ke dalam UGD. Katanya ia akan segera dirontgen. Aku duduk di samping Ibunya di ruang tunggu. Wajahnya yang tirus terlihat pucat. Seluruh keluarga Rivo disana mengelilingiku, menanyakan kronologis kejadiannya. Kupikir, inilah saat yang tepat untuk memberitahu mereka mengenai keadaan Eci. “Gimana keadaan yang diboncengnya? Lebih parah mana sama Rivo?”, tanya Ibu Rivo.

            Aku mencoba menahan air mata, namun tak kuasa. Air mata menetes terlebih dahulu sebelum keluar satu patah kata pun dari bibirku. Melihat itu, mereka sepertinya dapat menebak bahwa keadaannya lebih parah. “Yang diboncengnya…”, aku menghela nafas dan menyeka air mataku. “Meninggal…”, aku kembali terisak. Aku menundukkan kepalaku, tak kuasa menatap  wajah mereka. “Dia, kesulitan bernafas, dia meninggal nggak berapa lama begitu tiba di rumah sakit”, aku tak sanggup lagi. Aku takkan sanggup menjawab jika mereka lebih banyak bertanya lagi. Seorang wanita menyodorkan air mineral padaku. Mereka memaksaku untuk minum, namun aku tak dapat menelan apapun saat ini. Aku hanya meneguknya sedikit karena merasa tidak enak.

            Aku terdiam beberapa lama, entah menunggu apa. Aku sangat khawatir dengan keadaan teman-temanku yang lain disana. Aku menghampiri bagian pendaftaran, meminta izin untuk mengisi baterai handphoneku. Untunglah Bapak itu baik, dan mengizinkanku. Benar saja, begitu kunyalakan handphoneku, beberapa pesan masuk sekaligus. Dan beberapa panggilan masuk yang tak dapat kujawab. Tak berapa lama, Bu Irma mengehubungiku, aku langsung menceritakan padanya bahwa kini Rivo sudah di PMI Bogor dan aku menemaninya. Bu Irma merupakan Wali Kelas Rivo, jadi wajar saja beliau mengkhawatirkannya. Setelah itu, aku menghubungi Mahdi. Ternyata pihak sekolah belum juga sampai kesana. Dan disana mereka masih diam menunggu.

            Aku terus-menerus melirik jam didinding, jam besar yang tepat di atas pintu masuk UGD. Namun aku tak tahu apa yang kutunggu. Sekitar dua jam aku duduk di ruang tunggu. Lalu Ibu Rivo merangkul pundakku dan mengatakan bahwa Rivo sudah dipindahkan ke ruang perawatan di ruang VIP lantai tiga. Kami semua berjalan menembus gelap dan sepinya rumah sakit. Lalu kami masuk ke kamar Mawar 304. Kudengar, Rivo akan dioperasi pukul 10.00 besok pagi. Semua keluarga Rivo berpamit pulang padaku. Sehingga hanya aku dan Ibunyalah yang menemani Rivo. Aku harus tetap disini, sampai teman-temanku yang lainnya datang kesini. Kemungkinan mereka akan datang pukul 01.00 dini hari nanti.

            Aku duduk di kursi, tepat di sebelah tempat tidur Rivo.

“Lo bakal bae-bae aja ko, Vo”, ujarku mencoba memberinya semangat.

“Bil, masa  ada yang sms gw, dia bilang Eci meninggal. Nggak bener kan, Bil?”, tanya Rivo cemas. Aku tercengang mendengarnya. Ya Allah, secepat itukah beritanya menyebar? Seharusnya aku menyita handphone Rivo sejak tadi, aku tak memperhitungkan kemungkinan ini. “Ah, enggak ko! Ngaco tuh berita! Gw kan disana, Vo! Enggak ko! Eci bae-bae aja! Lo tenang aja, Vo”, jawabku dengan memasang wajah semeyakinkan mungkin. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Membuatnya tertawa, mencoba membuatnya tak lagi berpikir masalah Eci. Tentunya semua itu sangatlah sulit bagiku! Hati ini sudah berteriak dan menangis sejak tadi! Tak berapa lama, aku langsung mengundurkan diri dari pandangan Rivo. Aku sengaja pindah dan duduk dibalik gorden, sehingga aku maupun Rivo tak dapat bertemu pandang.

            Air mata kembali mengaliri wajahku. Namun aku langsung menyekanya. Aku tak mau Rivo nantinya dapat membaca kebenaran dari wajahku. Aku menundukkan kepalaku. Ibunya menyuruhku merebahkan tubuh dan beristirahat. Namun bagaimanapun aku tak bisa tidur. Memejamkan mata pun aku tak berani. Aku terlalu takut menghadapi semua ini. Aku melewati malam yang terasa panjang ini. Pukul 04.00 pagi, Sony menghubungiku dan mengatakan bahwa mereka semua sudah dilantai bawah. Aku turun ke bawah ditemani Ibu Rivo, kami memilih melewati tangga, karena lift di PMI sangat menyeramkan. Saat di tangga terakhir, aku dapat melihat Pak Purbiyatno, Pak Dahlan, Pak Asep, Pak Ruspita, Pak Ahmad, dan beberapa orang lagi. Aku langsung menghampiri Sony dan Edo saat Ibu Rivo berbicara dengan guru-guru. “Bil, lo udah makan?” , tanya Sony. Aku hanya menggelengkan kepala. “Udah tidur?”, tanyanya lagi. Aku kembali menggelengkan kepala. “Lo nginep di rumah gw aja ya, Bil!”, ujar Sony. Aku hanya diam. Aku tak peduli sekarang aku mau kemana.

            Aku, Ibu Sony, Sony, dan Edo berpamit untuk pulang lebih dulu. Setelah berpamitan, kamipun berjalan ke tempat parkir. Dinginnya udara pagi menusuk-menusuk tubuhku. Begitu sampai di rumah Sony, ia menyuruhku beristirahat di kamarnya, sedangkan ia tidur di kamar lain. Namun aku tak dapat tidur maupun memejamkan mataku. Aku tak berani. Ingin sekali rasanya saat ini aku dipeluk oleh Ibuku. Aku tak ingin sendirian. Aku takut. Jam sudah menunjukan pukul 04.30. Aku hanya merebahkan badan, namun tak berani memejamkan mata. Aku hanya dapat menangis. Tak terasa waktu pun berlalu. Pagi itu, kami semua langsung berangkat ke kediaman Eci di Menteng. Hanya sedikit makanan yang bisa masuk ke perutku. Dengan masih memakai pakaian yang sama, pakaian yang tadinya basah, kini sudah kembali kering, kami pun berangkat. Begitu sampai di Menteng, sudah banyak siswa dengan seragam batik di sekeliling rumahnya. Saat kami datang, semua pandangan tertuju pada kami. Aku hanya menundukkan kepala. Setelah memarkir motor, aku tak peduli dengan pandangan orang-orang. Saat hendak masuk ke rumahnya, kami ditanyai oleh seorang guru mengenai kronologis kejadian, kami hanya menjelaskan secara singkat.

            Pak Ahmad menghampiriku, “Bila, kamu udah pulang belum?”, tanyanya khawatir. Aku hanya menggelengkan kepala. “Abis ini istirahat ya! Nggak usah sekolah”, ujar Pak Ahmad. Setelah selesai memberikan keterangan, kami berjalan masuk ke rumahnya. Kami dapat merasakan semua mata tertuju pada kami. Aku tak sanggup melihat tubuh Eci yang kini telah diselimuti dengan kain kafan. Air mataku kembali menetes. Lalu aku beranjak keluar, mencoba mencari Ibuku. Begitu aku melihat sosok Ibuku, aku langsung berlari dan memeluknya. Aku hanya dapat menangis dipelukannya. Kemudian aku kembali ke dalam rumahnya bersama Ibuku. Aku duduk dan ikut membacakan Surat Yasin bersama yang lainnya. Namun baru sebentar, jenazahnya sudah harus dibawa. Aku hanya dapat menangis. Kakiku terasa lemas begitu mobil jenazah membunyikan sirenenya dan pergi berlalu. Jenazahnya akan dimakamkan di Jambi. Aku menghampiri seorang pria setengah baya, salah satu keluarga Eci.

            Aku mengeluarkan uang Rp.50.000,00 terakhir milik Eci yang sejak tadi malam tersimpan di sakuku. Aku masih dapat merasakan butiran-butiran pasir pantai diuang itu. Aku memberikannya pada pria itu. “Pak, ini…”, aku menyodorkan uang itu. “Ini uang terakhirnya Eci.  Ada di sakunya. Saya yang nyimpen saat ia dimandikan”, ujarku lirih. Pria itu pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Aku kembali bergabung dengan teman-temanku yang lain. Kami semua hanya tertunduk dan menangis. Tak berapa lama, kamipun meninggalkan rumah Eci dan beranjak ke sekolah.

 

                                                   ***

 

            Kini, tak terasa sudah tiga tahun  Eci pergi ke atas sana, meninggalkan kami semua disini.  Karena itu merupakan saat Eci pergi meninggalkan kami. Patah tulang lengan, tulang kaki, dan patahnya tulang rusuk yang menembus paru-parunya dan membuat paru-parunya bocor dan penuh dengan darah, serta penyempitan jantung dikarenakan patahan tulang rusuk yang menusuk jantungnya. Semua itu yang menyebabkan Eci tak dapat bertahan.

            Kami semua sempat patah semangat hidup. Dan Eci terus-menerus muncul dalam setiap mimpi kami. Di mimpi, Eci menuliskan puisi dalam sebuah buku. Kalimat terakhir dari puisi itu,

 

Lanjutkanlah hidup kalian

Umur kalian masih panjang

 

Puisi itu membuat kami dapat mengikhlaskannya. Membuat kami dapat tersenyum dan tertawa lagi. Takkan pernah kami lupakan, tawa renyahnya. Takkan pernah kami lupakan semua kenangan tentangnya. Kami takkan pernah melupakanmu, Desiska Rachmayati. Selamat tinggal! Eh, salah! Sampai jumpa! Kami semua pasti akan menyusulmu! Tunggu kami ya! Kami semua sayang Desiska Rachmayati!

8:20 AM
May 22nd, 2011

Catatan Penulis

Mohon maaf untuk sementara waktu saya belum bisa update tumblr karena sedang mengurus beberapa hal. Terima kasih bagi yang sudah setia membaca :D

5:53 PM
May 6th, 2011

PASMA Family

1:08 AM
April 26th, 2011

26 April 2011

Begitu banyak hal yang gue rindukan, suara, merasakan rasa makanan, hidup mandiri. Sekarang keluar dari rumah selalu ada yang mendampingi, dengan bantuan kursi roda, pergi kemana-mana dengan mobil, sekarang kalau naik motor bakal jatuh di tengah jalan kayaknya, udah kayak bola ngegelinding. Namun saat ini, gue sedang teramat sangat merindukan sesuatu. Alam. Segala hal yang berbau alam.

Ingin sekali rasanya pergi ke gunung walau belum bisa mendakinya lagi, walau hanya untuk menghirup kesegaran udaranya. Atau pergi ke pantai, walau hanya sekedar membasahi kaki ini dengan air laut. Gue rindu menikmati sunset sambil duduk di atas butiran pasir pantai. Terkadang ingin rasanya menangis, tapi gue memilih menyimpan air mata ini, gue berpikir nanti saja menangisnya, di pantai. Air mata kan asin, air laut pun asin, jadi hitung-hitung air mata gue nambah debit air laut sedikit, tenang aja, kagak bakalan sampe tsunami kok cuma gara-gara air mata gue doang.

Rasanya ingin sekali menghirup dan melepaskan nafas dengan begitu lega di tengah keindahan alam. Gunung maupun laut, gue ingin keduanya. Sepertinya trauma gue akan laut pun sudah menipis, walaupun setiap detik kejadian itu masih sangat teringat jelas. Justru, gue ingin kembali menginjak pantai itu, pantai yang sepi itu, pantai yang tiga tahun lalu menjadi pantai pertama sekaligus pantai terakhir yang didatangi oleh seseorang.

Setiap ingin pergi kemanapun, gue selalu berpesan kepada Mama untuk mengikhlaskan apapun yang terjadi nantinya. Jikalau suatu hari nanti Tuhan berkehendak hanya memulangkan jasad ini saja kembali pada orangtua gue. Gue selalu mengingatkan dengan tegas pada Mama, jangan sampai menyalahkan siapapun nantinya jika terjadi hal buruk, karena semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Gue selalu menegaskan hal itu, terutama sebelum gue pergi untuk naik gunung.

Gue teringat akan kejadian saat gue masih kecil dulu, lupa sih umur pastinya berapa, tapi sebelum gue bergabung dengan penggiat alam di SMA. Saat itu malam hari, gue hampir saja jatuh ke jurang, namun Tuhan masih menyelamatkan gue saat itu, gue berpegang erat pada sebuah batang pohon kecil berdiameter jari telunjuk, namun batang itu begitu kuat, berhasil menahan gue sehingga gue masih dapat bernafas hingga detik ini. Sebuah batang kecil yang berjuang untuk mempertahankan sebuah nyawa.

Maka dari itu gue sangat mencintai alam, bahkan hingga detik ini gue dan keluarga gue bertahan untuk tidak menggunakan AC di rumah, walau semakin lama udara semakin panas. Sempat beberapa kali kami goyah dan merasa tidak tahan dengan rasa panas, namun kami bertahan, tidak, kami tidak mau semakin merusak bumi ini. Bagaimanapun kesadaran itu haruslah dimulai dari diri sendiri.

Masih teringat jelas bagaimana bau kawah yang terkadang tercium di perjalanan walaupun jarak cukup jauh dengan kawah. Jalan menuju puncak gunung yang dengan cepatnya setelah terlewati langsung terbentuk lagi sebuah sarang laba-laba. Hmm, bunyi renyah ranting kecil dan dedaunan di tanah yang paling gue suka dan nikmati setiap kali menapakkan kaki. Embun-embun dari dedaunan yang terkadang menyentuh baju. Kabut maupun hujan rintik yang menemani perjalanan. Sungai yang mengalir deras dan kami seberangi. Lumpur yang terkadang membuat sepatu maupun sandal kami tenggelam bersamanya, dan sangat sulit diambil, namun aroma lumpurnya pun begitu khas dan menyejukkan hati. (ya iyalah, seluruh badan penuh lumpur sama push up nyiumin lumpur aja pernah, hahaha). Dan setiap ketemu lumpur, kami pasti ngasih tau yang di belakang supaya ga kejebak di lumpur juga. Biasanya, udah kayak orang main pesan berantai tapi teriak bilang “blok!” Udara dingin yang kadang begitu dingin sampai menusuk ke tulang dan bikin otak jadi keram sampe ga bisa mikir. Tapi cara menghadapi rasa dingin teramat sangat itu adalah dengan menyentuh air sungai yang dingin. Buat kami, kulkas alami itu ya sungai. Ngerendam apapun di sungai sebentar aja, dijamin abis itu langsung dingin kaya dimasukkin kulkas. Kadang konyolnya, kami jadi lemooooooot dan ngelantur saking dingin dan lelahnya. Pernah juga saking lelahnya dan sebentar lagi menginjak puncak gunung, jalan terseok-seok, ngesot-ngesot, tapi semua rasa lelah hilang seketika saat kami menginjak puncak gunung, langsung bersyukur dan sujud sama Tuhan deh pokoknya, suka mendadak jadi insyaf dan yang jarang shalat jadi shalat.

Menggelar matras, rebahan bareng-bareng, memandang langit yang penuh dengan jutaan bintang dan begitu indah, berbincang dari yang jelas sampai amat sangat tidak jelas. Masak bareng-bareng, yang tadinya ga bisa masak, jadi bisa masak mendadak, bagi kami makan di gunung itu harus enak. Masak nasi kuninglah di gunung, spaghetti, dll. Kalau ada salah satu dari kami yang datengnya nyusul, pasti pesenan wajib yaitu nasi padang. Makan nasi padang itu jadi menu favorit kami semua. Pernah juga sih kadang ada kekonyolan, bikin teh bukannya pake gula malah pake msg, dan kami minum semua lagi, ais itu langsung sakit tenggorokan dadakan deh.

Naik gunung itu pilihan, tapi turun gunung itu WAJIB hukumnya. Turun gunung itu jauh jauh lebih melelahkan dari naik gunung, lebih berbahaya, apalagi kalau jalurnya curam, terkadang untuk turun pun harus menggunakan tali. Yang bikin gue semangat kalo turun gunung dengan mengingat makanan di kota, terkadang sambil berjalan gue dan teman-teman menggumamkan nama-nama makanan, seperti mie ayam, bakso, nasi padang, dll. Kebersamaan luar biasa setiap kali di gunung. Saling menjulurkan tangan untuk membantu. Walau pernah juga sih ada kejadian konyol, waktu itu gue nyaris nyelup ke lumpur, gue kehilangan keseimbangan, temen gue niatnya mau nolongin, eh salah pergerakan, ujungnya bukan hanya tangan gue doang yang nyelup ke lumpur, tapi setengah badan, hahaha. Kami semua juga saling menyemangati satu sama lain, saat ada yang drop, kita pasti menyemangati satu sama lain. Satu yang paling gue inget soal menyemangati, pas dilantik dan disuruh minum vitamin, temen seangkatan pada nyemangatin gue supaya bisa nelen tuh vitamin (gue ga bisa nelen obat), akhirnya ga ketelen juga, terpaksa gue kunyah deh tuh vitamin pahit, sampai keluar air mata pas gue ngunyah tuh obat, dan temen-temen gue tetap nyemangatin gue.

Kalau di alam, jangan pernah sombong atau ngomong kasar deh. Ngetawain temen juga jangan deh, karmanya cepet banget, cuma selang beberapa menit, kadang hitungan detik. Contohnya waktu itu gue pernah bilang, “Eh ini kan tempat si F waktu kepeleset, hahaha, tolol banget dah!”, abis itu hanya hitungan detik gue kepeleset. Temen gue ngetawain gue dan bilang, “Hahahaha, makanya Bil, jangan ngomongin orang lu!”, abis itu hitungan detik temen gue ikut kepeleset. Gara-gara liat temen gue ikut kepeleset, gue ketawa ngakak lalu ga berapa lama, gue kepeleset lagi. Kualatnya cepet banget pokoknya, abis itu gue sama temen gue diem, ga mau ngetawain orang lagi, bisa-bisa nanti sepanjang perjalanan kepeleset mulu.

Pernah juga saat itu gue naik gunung bertiga dan dua teman gue laki-laki, hanya gue perempuan satu-satunya. Waktu itu ada turunan yang sebenarnya ga begitu curam dan licin. Pas mau turun, temen gue bilang, “Eh Bil, itu tentara pada ngeliatin lo semua gitu, wajar sih, lo cewe satu-satunya, sedangkan mereka batangan semua.” Gue tertawa kegeeran dikit, abis itu langsung deh kepeleset dengan sangat mulus disaat mata-mata para tentara itu lagi ngeliatin gue. Pertunjukkan yang sangat bagus. Temen gue langsung ngakak saat itu juga. Oiya, kebiasaan kami, walaupun ga semua sih, kalau ngeliat apa-apa pasti ketawa dulu, abis itu ketawa lagi, terus ketawa lagi, baru deh temennya ditolongin. Ya, semua ini hanya serangkaian kecil dari jutaan cerita luar biasa saat kami menapaki gunung. Dan gue sangat merindukan semua itu. Suatu hari, gue pasti bisa menapakinya lagi dan pastinya akan lebih berhati-hati sama yang namanya kepeleset.

6:01 PM
April 24th, 2011

24 April 2011

Beberapa hari lalu gue bermimpi tentang seseorang, seorang yang gue kenal dekat, Almarhum Fitrah, sepupu gue. Entah mimpi ini hanya sekedar mimpi atau bersirat makna. Yang gue ingat di mimpi itu, gue ada di pemakaman, di depan sebuah lubang tanah 2x1 meter, dan di dalamnya ada Almarhum Fitrah berbalut kain kafan yang sedang dikuburkan. Namun saat gue memalingkan wajah dari kuburan tersebut, gue melihat Almarhum Fitrah, terlihat sangat tampan, dia sedang berusaha berbicara dengan orang-orang, namun tak ada yang mendengarnya, tak ada yang dapat melihatnya.

Dalam mimpi itu, hanya gue yang kebetulan bisa melihat Almarhum Fitrah, gue menyapanya dan ia terlihat begitu senang begitu tahu ada yang bisa melihatnya. Kami pun duduk bersama, namun wajahnya terlihat sedih, ia terlihat begitu sedih karena ia sudah meninggal, ia begitu sedih melihat dirinya sendiri dikubur. Kami berbincang banyak hal dan cukup lama, gue tidak mengingat bagian apa yang kami perbincangkan. Lalu dia memeluk gue. Dia memeluk gue begitu erat dan begitu lama. Sungguh pelukan yang begitu lama, sampai akhirnya gue mengatakan padanya, “Lo yang tenang ya disana, nanti gue nyusul lo.” Setelah itu gue langsung terbangun, dan begitu terbangun gue hanya bisa termenung. Entah apa arti mimpi itu, atau mungkin saja itu hanyalah sebuah mimpi tanpa arti. Ya, tidak ada yang tahu.

Keluarga gue berencana untuk pindah ke Palembang, berat rasanya saat mengatakan pada Mama kalau gue ingin tetap disini. Sampai Mama berkata, “Kamu ga sayang Mama apa, Kak?” Gue juga tidak mengerti apa yang membuat gue begitu berat untuk pindah, namun sebenarnya ada satu hal yang begitu mengganjal. Gue ingin diistirahatkan disini. Kematian itu pasti, hanya saja kita tidak tahu kapan waktunya. Sejak awal, gue sudah merencanakan ingin diistirahatkan disini, satu tempat pemakaman dengan Kakek dan Fitrah. Dulu sebelum meninggal, Kakek pernah bilang ingin diistirahatkan di tempat yang tenang, tempat yang bisa melihat pemandangan gunung, tempat dimana terdengar aliran sungai, tempat yang berpadu dengan alam. Begitupun dengan gue, gue ingin diistirahatkan di tempat yang sama dengan Kakek.

Bukan hanya rancangan sebuah rumah idaman masa depan yang gue pikirkan, namun juga tempat dimana gue akan dimakamkan nantinya. Gue sempat berbincang banyak hal dengan Mama dan Papa. Awalnya gue merasa berat untuk menyumbangkan otak serta tulang belakang gue setelah gue tiada nanti untuk research penyakit ini. Terlintas di hati, apakah gue sungguh rela terkubur tanpa otak serta tulang belakang? Lalu pikiran dan hati ini pun mulai berubah. Apalah gunanya sebuah tubuh jika sudah dikuburkan nanti?  Bagaimanapun sempurnanya tubuh ini ketika dikuburkan  tetap akan kembali menjadi tanah. Jadi apa gunanya mempersoalkan tubuh yang dikuburkan tanpa organ? Bahkan tubuh yang terkubur tanpa organ jauh terlihat lebih baik daripada tubuh yang hangus terbakar maupun tubuh yang hancur karena kecelakaan. Namun ternyata ada banyak faktor juga yang tidak memungkinkan, jika gue ingin menyumbangkan otak serta tulang belakang ini untuk research, maka gue harus meninggal di rumah sakit yang ditentukan di Inggris, rasanya tidak mungkin. Selain itu yang paling penting, jika gue meninggal disana, gue tidak mau sampai tidak dimakamkan sesuai dengan syariat agama yang gue yakini.

Terpikir niat untuk mendonorkan saja jantung, hati, ginjal, serta mata ini jika nantinya gue sudah tiada. Niat ini pun juga gue sampaikan pada Mama, dan Mama pun menyetujui hal ini. Namun ternyata Tuhan berkata lain, ada hal yang membuat sangat tidak memungkinkan bagi gue untuk mendonorkan organ. Rasanya begitu sedih begitu banyak orang di luar sana yang diberi kesehatan namun justru memilih untuk mengakhiri hidup hanya karena merasa tidak kuat untuk menghadapi suatu masalah. Tidakkah mereka tahu betapa berharga tubuh yang mereka sia-siakan? Betapa Tuhan memberi kita semua tubuh dengan segala kesempurnaannya ini secara gratis namun tak ternilai harganya yang seharusnya selalu kita syukuri. Betapa banyak sekali orang di luar sana yang sekarat namun tetap bersabar menunggu donor dan berjuang dengan penyakit mereka. Bagi gue, orang yang mau, mampu, dan memenuhi syarat untuk dapat mendonorkan organnya untuk orang-orang yang membutuhkan merupakan orang-orang yang luar biasa beruntung, sayangnya gue tidaklah seberuntung mereka yang dapat memenuhi syarat untuk mendonorkan organ mereka.

8:41 PM
April 10th, 2011
Life is an opportunity, benefit from it
Life is beauty, admire it
Life is bliss, taste it
Life is a dream, realize it
Life is a challenge, meet it
Life is a duty, complete it
Life is a promise, fulfill it
Life is sorrow, overcome it
Life is a song, sing it
Life is a struggle, accept it
Life is a tragedy, confront it
Life is an adventure, dare it
Life is luck, make it
Life is too precious, do not destroy it
Life is life, fight for it
Madam Theresa Quote
8:47 AM
April 10th, 2011
disinilah pointnya, Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kemampuan umatNya
tuhan memberikan ujian dan tuhan juga memberikan kekuatan untuk mengahadapinya…
on chat with @nabila nurjanida at 12.37 am (via tatatantri)
8:46 AM
April 10th, 2011

10 April 2011

Tuhan meminta gue untuk beristirahat, ya, memang begitu adanya. Tuhan memberi gue kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga gue. Tuhan meluluhkan hati Papa yang begitu keras. Tuhan memberi kesempatan bagi gue dan keluarga agar menjadi lebih baik. Tuhan menguji kami sekeluarga untuk menaikkan derajat kami.

Gue orang yang benar-benar “gila” main. Rasanya tidak betah di rumah sebelum hari gelap. Sejak SMA gue masuk ke Penggiat Alam, gue juga menjadi koordinator sekbid di OSIS, dan juga masuk ke dalam FKOB (Forum Komunikasi Osis Bogor). Tiga organisasi sekaligus yang menyibukkan hari-hari gue. Namun gue sangat menikmatinya, karena gue tidak mau berdiam diri saja tanpa kegiatan. Sejak SMA pun gue dekat tidak hanya dengan teman seangkatan, namun juga bersahabat dengan kakak kelas maupun adik kelas. Maka dari itu gue sering bermain dengan mereka.

Ya bermain, rasanya dulu gue terlalu “gila” main disamping berorganisasi. Disaat sedang tidak ada kegiatan organisasi gue memilih mengisi waktu dengan bermain dibanding di rumah dan beristirahat. Entah itu main ke rumah teman atau pergi nonton (sumpah gue paling gila nonton) atau sekedar berkumpul bersama teman penggiat alam mengobrol menghabiskan waktu dan terkadang bermain uno. Gue beruntung memiliki orangtua yang percaya terhadap anaknya dan kepercayaan itu masih gue pegang hingga detik ini, semalam apapun gue pulang ke rumah, namun gue tidak pernah mencoba hal-hal negatif seperti clubbing, minum alcohol, maupun narkoba.

Pulang jam dua pagi pun orangtua gue tidak khawatir, apalagi jika mereka tahu gue berkumpul dengan para penggiat alam, mereka sangat percaya pada gue dan memberi kebebasan. Terkadang disaat gue tidak boleh keluar bermain, namun disaat ada kegiatan penggiat alam mereka langsung membolehkan. Ya, tentunya itu semua karena orangtua gue juga sama seperti gue semasa muda, mereka “gila” dengan kegiatan penggiat alam.

Saat gue menginjak bangku kuliah pun, mereka bukanlah tipe orangtua yang menelpon gue setiap harinya. Gue juga tetap “gila” main saat kuliah. Terkadang berkumpul dengan teman-teman di rooftop, bersandar menatap langit, berbincang berbagai hal dari yang penting sampai yang sangat-sangat tidak penting hingga pagi, setelah itu sarapan bersama baru kami pulang ke kosan masing-masing atau terkadang langsung ke kampus untuk kuliah.

Sering juga kami pergi ke lembang hanya untuk menikmati secangkir kopi, menikmati udara super dingin di dini hari, lalu kemudian turun ke kota muter-muter ga jelas melihat kehidupan malam yang terkadang bikin kami tertawa ngakak, melihat dari mulai yang beneran cewek sampai cewek jadi-jadian, mencari spot drift yang enak, sampai pernah dimarahi abang-abang karena ngedrift, lalu pergi ke Jatinangor muter-muter ga jelas sampai bosen, dan berujung duduk di trotoar CK Dago, mengambil beberapa foto, bermain kartu sambil menikmati cokelat dan kopi panas hingga pagi datang, sarapan bersama, barulah kami pulang ke kosan masing-masing.

Pernah juga kami pergi ke bukit bintang, mengambil beberapa jepretan keindahan lampu kota Bandung di malam hari lalu pergi makan roti bakar tengah malem, dan melihat langsung adegan yang biasa dilihat di sinetron atau reality show. Parah banget ada cewek sama cowok berantem, ga tau suami istri, ga tau masih pacaran. Tragis banget ngeliat mereka berantem sampe turun dari mobil, terus cowoknya nampar si cewek, ngelempar tas si cewek, udah gitu pas ceweknya jalan menjauh dari mobil, ditarik sadis tuh cewek sama si cowok sampai tuh cewek jatuh kebanting. Waaaaaaa, sinetron banget ya? Pengen difoto tapi takut kamera malah dibanting. Temen cowok gue pengen nolongin tapi katanya serba salah. Sampai akhirnya si cowok malu sendiri dan pindah lokasi. Siapapun cewek itu, semoga masih hidup ya. Setelah melihat adegan sinetron itu, kami pergi ke ITB, masuk ke gedung FSRD yang serem banget pas tengah malem, lalu masuk ke studio lukis yang luar biasa. Karya-karya lukisan di dalamnya sungguh luar biasa, buat anak FSRD, boleh minta ga lukisannya satu?

Terkadang gue dan teman-teman memilih stay di satu tempat hingga tempat itu tutup, benar-benar sampai café itu tutup baru kami mulai hijrah. Terkadang kami pergi karaoke sampai jam tiga pagi. Dan yang paling seru disaat kami berkumpul untuk memberi surprise ulang tahun teman kami. Atau disaat salah satu dari kami galau, kami memilih balkon sebagai tempat curhat, duduk diatas pagar pembatasnya sambil ngegalau, kalau orang lewat sepintas mungkin menyangka kami seperti ingin mengakhiri hidup dengan terjun dari lantai tiga.

Ya, mungkin untuk sebagian orang hal yang gue lakukan ini biasa, karena sama seperti gue atau mungkin lebih “gila” dari gue dan teman-teman gue. Namun gue mengerti tanggapan beberapa orang yang menganggap hal yang gue lakukan “gila” atau tidak sepantasnya. Tapi itulah gue, itulah kehidupan gue sebelum penyakit ini datang. Bisa terlihat jelas betapa minimnya waktu yang gue habiskan dengan keluarga? Sangat minim dan penyakit inilah yang memberikan begitu banyak waktu untuk gue berkumpul dengan keluarga. Berdiam diri di rumah selama beberapa bulan awalnya rasanya sangat menyiksa. Hati gue selalu teriak, PENGEN MAEEEEEEEN! Terkadang kalau rasa bosan luar biasa sudah menghampiri, gue hanya bisa guling-gulingan di tempat tidur sambil merengek minta main.

Tapi sudah beberapa bulan gue sudah tidak pernah merasakan perasaan itu lagi, tidak ada lagi rasa bete sampai guling-gulingan. Gue akan sangat bersedia main jika ada yang menjemput dan mengajak main, terkadang juga teman-teman gue datang menggila disini, saking banyaknya yang datang rumah berasa pengungsian. Pernah juga teman-teman gue datang main dan bakar-bakaran hingga begitu larut. Ya, gue menikmati semua itu. Gue juga tetap menikmati walau terkadang gue hanya bisa terbaring di tempat tidur seharian. Dan tiada hari yang gue lewati tanpa tawa, setiap hari gue selalu tertawa. Tertawa, enjoy, bahagia semua adalah obat paling luar biasa. Kalau kata dokter Dilla, dengan tertawa tubuh akan menciptakan banyak endorfin yang akan membuat kita yang sakit merasa sehat dan mengurangi produksi cortisol yang disebabkan oleh stress. Gue menikmati hari-hari gue, bagaimanapun keadaannya, karena inilah yang membuat gue bertahan untuk tidak merasa sedih maupun menangis, melainkan merubah semua hal yang seharusnya ditangisi menjadi sebuah tawa. Masalah apapun, keadaan apapun, semua tergantung dari bagaimana cara kita menghadapinya. Jadi mari kita tertawa! Hidup tertawa!

12:24 AM
April 10th, 2011

Dear Nabila

Tulisan ini ditulis oleh salah satu adik kelas saya semasa SMA. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari tulisan ini. Selamat membaca readers :
Dear Nabila

assalammualaikum teh embil, gimana kabarnya sekarang?

embil. teh embil ,itu panggilan waktu SMA kan? udah lama banget kita gak ketemu. ga ada kabar apa-apa.. sampe waktu di asrama ,di kamar inneke ada faitha,dia cerita tentang mbil.

aku tau kamu gasuka dipanggil pake sebutan ‘teteh’ atau ‘kaka’. aku juga tau kamu senior yang paling beda di OSIS angkatan kang mail. yah kamu memang berbeda mbil. beda dari yang lain. yang aku tau kamu itu tomboy, suka berpetualang sama edo faitha raty rivo alm.eci abud dkk.

yah faitha cerita tentang keadaan embil gimana.. katanya embil sakit.. dan aku disuruh baca blog nya embil di nabilanurjanida.tumblr.com ,begitu pulang kerumah, aku langsuung buka alamat blog nya mbil…..sedih mbil…

dari awal aku tau kalo mbil itu emang perempuan kuat, tabah, dan gak pernah mengeluh..

tulisan mbil itu bikin semua yang baca jadi sadar, harus lebih banyak bersyukur dalam keadaan apapun itu…

oya mbil, aku punya artikel nih, aku copy-in yah disini…

Sahabat..,Jika kita mengalami Sakit, cobalah selalu ber khusnudzon dengan Apa yg kita alami, di bawah ini ada renungan ini buat kita semua, baik yang sedang sakit, ataupun yang sehat.

1. Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya.

2. Sakit, sebagaimana tiap ujian, tidaklah menguji kemampuan sebab telah diukur tepat sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna.

3. Maka dia nan mampu memberi makna terbaik bagi Sakit, kemuliaannya akan diangkat untuk membuat malaikat yang selalu sehat itu tertakjub.

4. Sakit adalah jalan kenabian Ayyub yang menyejarah. Kesabarannya diabadikan jadi teladan semesta. Hari-hari ini kita bercermin padanya.

5. Sakit orang mulia bersebabkan kemuliaan; Asy Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu, Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa.

6. Nabi kitapun Sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup di gigit pertama melalui celah gigi yang patah dalam perang Uhud.

7. Tetapi bahkan mereka yang penyebab Sakit-nya tak semenakjubkan para luhur itu, tetap punya peluang mulia dengan memaknai rasa sakitnya.

8. Sakit itu dzikruLlah. Mereka yang menderitanya hampir pasti lebih sering & syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

9. Sakit itu istighfar. Mereka yang sedang disapanya lebih mudah untuk teringat dosa-dosa lama, mengakuinya, & bertaubat mohon ampun.

10. Sakit itu Tauhid. Mereka yang parah dicengkamnya pasti dituntun orang untuk ber-kalimat thayyibat, mengesakanNya dalam lisan & rasa.

11. Sakit itu Muhasabah. Sebab dia yang sakit punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.

12. Sakit itu Jihad. Sebab dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, dia diwajibkan untuk terus berikhtiar, berjuang bagi kesembuhannya.

13. Sakit itu ilmu. Dalam menjalani pemeriksaan, berkonsultasi dengan dokter, dirawat, & berobat bertambahlah pengetahuan tentang tubuhnya.

14. Sakit itu Nasehat. Yang sakit ingatkan nan sehat tuk jaga diri. Yang sehat menghibur si penderita agar bersabar. Allah cinta keduanya.

15. Sakit itu silaturrahim. Yang jarang datang di saat nan bersangkutan sehat wal afiat, tiba-tiba menjenguk dengan senyum & rindu mesra.

16. Sakit itu perekat ukhuwah. Kawan lama nan tak bersua bertahun lamanya, tiba-tiba berjumpa di waktu membezuk seorang kolega lainnya.

17. Sakit itu belajar. Berbaring setengah duduk memungkinkan mencerap ilmu dengan tekun lewat buku, kata-kata terucap, maupun gambar gerak.

18. Sakit itu membaca, menulis, berkarya. Habiburrahman El Shirazy menggoreskan Ayat-ayat Cinta saat terbaring patah kakinya

19. Sakit itu dijamin cinta Allah dalam sabarnya; sabar tetap ibadat, sabar tak bermaksiat, sabar tahan deritanya, sabar menunda capaian..

20. Sakit itu gugur dosa-dosa. Barang haram terselip tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan nan mungkin berdosa dinyerikan & dicuciNya.

21. Sakit itu mustajab doanya. Sampai-sampai Imam As Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka.

22. Sakit itu salah satu keadaan yang menyusahkan syaithan; diajak maksiat tak mampu-tak mau, dosa yang lalu malah disesali lalu diampuni.

23. Sakit itu membuat sedikit tertawa & banyak menangis; satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi & makhluq-makhluq langit.

24. Sakit itu meningkatkan kualitas ibadah; ruku’-sujud lebih khusyu’, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyat & doa jadi lebih lama.

25. Sakit itu memperbaiki akhlaq; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & tawadhu’.

26. Sakit itu membuat kita lebih serius mengingat & mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat maut menghargai waktunya dengan baik.

mbil pasti udah tau kan hikmah-hikmah ini semua, dan mbil udah ngejalanin semua itu, dengan ikhlas..

semoga mbil selalu berada dalam lindungan & kasih sayang Allah.. aamiin :’)

ditulis oleh : Endah Hartantri

http://tatatantri.tumblr.com/

12:00 AM
April 10th, 2011

How it feels to be our

Banyak orang yang berkata, “Ya gue nggak tau sih gimana rasanya kalo gue jadi lo”, baik itu dalam konteks comment positif maupun negatif. Bagaimana rasanya menjadi gue? Jawabannya biasa aja, gue tetap enjoy dengan hari-hari gue walau dalam keadaan berbeda. Mungkin ini karena gue mulai bisa menerima apa yang terjadi, dan mengetahui perubahan apa yang akan terjadi pada diri gue kedepannya dengan penyakit ini, sehingga gue bisa lebih bersiap menghadapi semuanya.

Bagi kami semua yang menderita penyakit ini, memang tidaklah mudah pada awalnya. Reaksi yang sangat wajar terjadi disaat kami mengetahui bahwa penyakit kami merupakan penyakit yang seserius ini seperti shock, takut terhadap masa depan, merasa tidak percaya dengan diagnosis dokter, merasa cemas akan dengan seseorang yang kita sayangi ataupun dengan teman-teman, rasa sedih karena merasa kehilangan masa depan yang diharapkan, marah dengan dokter, keluarga maupun teman karena meluapkan emosi, merasa “berbeda” dengan orang-orang di sekitar, perasaan sedih yang terus muncul, merasa depresi karena tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Ya, semua itu sangatlah wajar terjadi saat kami mengetahui penyakit ini.

Banyak dari kami, penderita MND berhasil bangkit dari keterpurukan namun ada juga beberapa dari kami yang tetap berlarut dengan perasaan sedih, marah, bahkan benci hingga akhir hayatnya. Masalah waktu yang dibutuhkan kami untuk dapat bangkit tentulah berbeda-beda. Penyakit ini bukan hanya menyerang kami, si penderita, namun juga berdampak untuk semua orang terdekat kami. Keluarga merupakan sosok terdekat bagi kami, hanya keluarga yang akan selalu setia di sisi kami sampai akhir nanti. Teman dan kekasih, ada yang bertahan, ada juga yang tidak. Hanya orang-orang yang luar biasa berjiwa besarlah yang bertahan di sisi kami.

Jika ada yang ingin tahu bagaimana rasanya menjadi kami? Cobalah ikat kedua tangan serta kedua kaki kalian, lalu plesterlah mulut kalian. Bagaimana rasanya seperti itu? Terisolasi dan tak bisa bergerak sesuai dengan kehendak. Ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa karena tidak ada suara yang keluar dari pita suara kami. Ingin bergerak namun tangan dan kaki tak kuasa untuk bergerak. Begitu kalian mencobanya, bayangkan kalau kalian harus merasa seperti itu hingga akhir hayat. Apa yang kalian rasakan? Ya, itulah yang kami semua rasakan!

Pertanyaan awal yang pasti tercetus dari kami adalah, “KENAPA SAYA?” Itulah pertanyaan yang pastinya terlintas dalam benak kami. Kenapa saya? Kenapa saya? Kenapa saya? Banyak yang mempertanyakan keadilan Tuhan. Kami merasa kesal pada diri sendiri dan semua orang. Kami merasa takut membayangkan masa depan, bahkan rasanya tidak mau memikirkan masa depan. Kami merasa takut akan hari esok, karena kami tidak tahu apa yang akan direnggut oleh penyakit ini dari kami saat kami terbangun esok hari.

Namun berlarut dalam keadaan itu, tidak ada gunanya. Kami harus merubah pemikiran kami dari “Mengapa saya?” menjadi “Apa yang saya bisa lakukan?” Ya, apa yang bisa kami lakukan agar tetap bermanfaat walau dengan segala keterbatasan ini? Apa yang bisa kami lakukan walau hanya mata ini yang bisa diandalkan untuk pergerakan? Apa yang bisa kami lakukan?

Dulu keluarga gue sempat berpikiran tidak perlu mengetahui penyakitnya, fokus terhadap pengobatan saja. Namun tidakkah pemikiran mereka konyol? Tanpa mengetahui penyakitnya kami bahkan tidak tahu langkah pengobatan apa yang tepat bagi kami. tanpa mengetahuinya penyakitnya kami bahkan tidak tahu apa yang kami hadapi. Dan itu rasanya seperti mereka membiarkan kami melumpuh dan mati tanpa mengetahui apapun dan tanpa mempersiapkan jiwa kami untuk menghadapi semua ini. Ketahuilah, walaupun keluarga dan orang terdekat ikut merasakan efek dari penyakit ini, namun bagaimanapun mereka tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi kami. Ini tubuh kami. Tubuh kami yang melumpuh. Saraf kami yang mati. Bukan mereka.

Gue selalu berdoa, “Tuhan, tunjukkanlah hamba jalan yang terbaik, jalan yang Engkau ridhoi.” Sungguh, Tuhan Maha Mendengar. Selama ini gue sangat bersyukur karena Tuhan menunjukkan jalan-jalan terbaik untuk gue. Tuhan menakdirkan gue bertemu dengan orang-orang luar biasa dengan cara yang sangat tidak terduga.

Kebetulan waktu itu ada seseorang yang merekomendasikan gue untuk membaca salah satu buku karya dr. Ferdiriva Hamzah, begitu gue membaca bukunya bagian koas neurologi, entah kenapa hati gue tergerak untuk menghubungi dokter tersebut dan menanyakan masalah penyakit ini. Dimana saat itu, yang gue ketahui ada radiculopathy di saraf cervicalis gue. Saat mengontak dr. Riva, beliau langsung menghubungkan gue dengan rekannya, yaitu dr. Dilla.

Mulailah gue berkonsultasi dengan dr.  Dilla, gue mengatakan gue belum pernah mendapatkan penjelasan medis apapun langsung dari dokter, dokter menjelaskan pada keluarga gue sementara pihak keluarga tidak mau menjelaskan apapun pada gue. Bahkan saat di Bandung pun dokter yang menangani gue tidak berani bicara langsung pada gue, melainkan meminta untuk bicara by phone dengan pihak keluarga. Saat itu dokter hanya menepuk bahu gue, menatap mata gue dengan dalam dan berkata, “Ya ampun, kamu masih terlalu muda.” Dan beliau baru mengatakan beberapa hari yang lalu bahwa memang sejak awal pemeriksaan beliau sudah mengarah ke diagnosa ALS, hanya saja beliau tidak bisa menegakkan diagnosanya karena keluarga gue langsung menarik gue dari Bandung. Saat gue konsultasi dengan dokter Dilla, dan menceritakan tentang semua gejala yang gue alami, barulah gue tau bahwa penyakit ini memang bukan penyakit biasa. Dokter Dilla, memberikan beberapa kemungkinan penyakit namun tak satupun dari kemungkinan itu penyakit yang ringan, semuanya penyakit serius.

Awalnya gue merasa ragu untuk bicara dengan keluarga, namun akhirnya gue memberanikan diri, gue menangis saat itu. Sebagai pasien gue berhak tau apa penyakit yang gue derita sebenarnya. Selama ini gue menjalani pengobatan yang mereka anjurkan, tidak secara medis, karena yang keluarga gue katakan penyakit ini tidak dapat disembuhkan secara medis. Namun tetap tidak ada hasil dari pengobatan itu, keadaan gue terus memburuk.

Gue mencoba menjelaskan pada keluarga gue, gue memaksa ingin tahu apa yang dikatakan dokter, saat itu gue mencoba menyiapkan diri untuk mendengar kemungkinan terburuk, namun saat keluarga gue menjelaskan, “Istilah kasarnya ya kamu mati pelan-pelan! Penyakit ini lambat tapi pasti!” , air mata langsung mengalir saat gue mendengarnya.  Saat itu pihak keluarga gue akhirnya setuju untuk mempertemukan gue dengan salah satu dokter saraf. Saat itu cara berjalan gue sudah berubah dan jari-jari tangan gue mulai menekuk. Gue mendapat penjelasan dari dokter bahwa gue harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apa pastinya penyakit gue, namun dokter itu mengatakan, apapun penyakitnya, tetap merupakan penyakit serius yang belum bisa disembuhkan di dunia medis karena belum ditemukan obatnya.

Saat itu gue hampir menyerah memperjuangkan hak gue sebagai seorang pasien. Dan disaat gue mulai berpikir bahwa ada baiknya gue mengalah pada mereka, mengikuti saja apa yang mereka inginkan, dan gue merasa salah dengan pemikiran gue selama ini untuk berjuang mengetahui penyakit gue.  Tuhan menunjukkan jalan terbaikNya. Tuhan menunjukkan apa yang benar menurutNya. Semua jalan dilancarkan, Tuhan meluluhkan hati keluarga gue. Dari hal itu gue belajar sesuatu, jika kita merasa benar, kebenaran tak akan muncul, namun sebaliknya, jika kita merasa salah, kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Disinilah kebesaran Tuhan terlihat dengan jelas. Tuhan seakan membayar semua perjuangan gue selama ini, dimana awalnya gue berjuang sendiri sementara keluarga gue tidak percaya gue sakit dan menganggap enteng penyakit gue. Sakit hati rasanya harus sampai melihat kaki gue tidak bisa digerakkan baru mereka sadar anaknya benar-benar sakit.

Namun untunglah keluarga gue mulai merubah jalan pikir mereka dan Tuhan benar-benar menunjukkan kebesaranNya. Karena sesungguhnya hanya TuhanYang Maha Tahu mana yang benar dan mana yang salah dan hanya Tuhan Yang Maha Tahu akan niat di dalam diri seseorang, kita sebagai manusia hanya bisa berprasangka.