Nabila Nurjanida

I am 20 years old girl who suffered Motor Neuron Disease #MND
In this blog, I'll post about this disease, me, family, and friends.
Welcome to my Tumblr :D

Ask me | Submit
10:48 PM
July 30th, 2011

Selamat tinggal! Eh, salah! Sampai jumpa!

Tulisan ini sudah 3 tahun yang lalu saya tulis. Sudah di publish oleh adik saya atas permintaannya di facebooknya dan kaskus. Kali ini akan saya publish sendiri tulisan ini. Tulisan ini teruntuk Almarhumah Eci. Hari ini, tepat 3 tahun sudah kepergiannya. Semoga kamu tenang disana ya Eci, kami selalu mendoakanmu.

            Kami hanya dapat duduk di atas trotoar sambil menatap gelapnya langit. Kejadian itu terus-menerus terbayang dalam pikiran kami. Wajah kami semua sembab, pucat pasi dengan bekas sekaan air mata dipipi kami. Tak ada satupun diantara kami yang membuka mulut untuk berbicara. Kami semua terlihat seperti orang yang putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali diam menundukkan kepala. Perlahan, langit mulai meneteskan air matanya. Tanda ikut bersedih.

            Aku bangkit lalu berjalan menuju masjid, mengambil air wudhu dengan perasaan yang campur aduk. Aku dapat merasakan dia di sampingku. Namun aku tak peduli, aku sangat ingin menenangkan diriku dengan shalat maghrib. Aku merasa tak dapat berkonsentrasi, bahkan dalam shalatku. Tiba-tiba saja aku tak tahu harus membaca apa dalam shalatku. Kejadian itulah yang justru selalu membayangi pikiranku. Tanpa membiarkan otakku untuk beristirahat sejenak.

            Selepas shalat, aku kembali ke bagian depan untuk bergabung dengan yang lainnya. “Udah shalat lo, Bil?”, tanya Raty saat aku duduk di sampingnya. Aku hanya dapat mengangguk dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya. Aku melihat handphoneku, low batt. Sementara ada dua panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang belum sempat kubaca. Aku membaca pesan itu sekilas lalu langsung menghapusnya. Aku melempar ringan handphoneku ke aspal. Termenung sebentar, lalu aku meraih handphoneku kembali. Aku mencari kontak di phonebook, “Mama”, lalu menekan tombol memanggil. Tak berapa lama, kudengar jawaban, “Halo, kamu dimana, Ka?”, suara lembut diwarnai kekhawatiran menyahut panggilanku.

            Aku membuka mulutku, namun tak ada suara yang keluar, aku tak sanggup bicara satu patah kata pun. Tetes demi tetes air mata kembali membasahi pipiku.

 

                                                  ***

 

            Apakah sebaiknya aku istirahat dirumah hari ini? Pertanyaan itu terus terlintas dibenakku. Namun aku sudah setengah perjalanan menuju kediaman Mahdi. Kami semua berkumpul disana sebelum berangkat. “Son, lo nggak pa-pa tuh jadi ngebatalin janji sama cewe lo?”, tanyaku memecah kebisuan di antara kami. Maklum saja, tadi aku sedang terhanyut dalam pikiranku sendiri. “Nggak pa-pa kok, Bil. Lagian gw pengen banget ikut! Pengen jalan-jalan jauh kayak gini!”, jawaban Sony terdengar samar karena ia memakai helm. Kami hanya mengobrol ringan sepanjang perjalanan ke rumah Mahdi. Begitu sampai, aku melihat sudah ada dua orang yang duduk di halaman rumah Mahdi. Setelah setengah jam berkumpul, akhirnya kami semua memulai perjalanan. Aku, Sony, Edo, Raty, Mahdi, Ii, Aril, Rivo, dan Eci. Kami semua memulai konvoi ke Pelabuhan Ratu. Aku bersama Sony, Edo bersama Raty, Rivo bersama Eci, Mahdi bersama Ii,  sedangkan Aril sendiri, tak membonceng siapapun.

            Namun baru saja sampai di lampu merah Empang, ada sebuah motor yang lupa menginjak rem, sehingga menabrak bagian belakang motor Vixion yang kutumpangi bersama Sony. Untunglah tidak terjadi apa-apa dan Sony dapat menjaga keseimbangan sehingga kami tidak terjatuh. “Hahaha! Belum apa-apa udah tabrakan!” , ujar Rivo yang kebetulan bertepatan di samping motor kami. Kami pun hanya tertawa. Perjalanan pun berjalan lancar dan menyenangkan, walaupun sempat saling tunggu karena ada yang tertinggal jauh. Jalan yang berlika-liku, dengan ribuan pohon rindang di sekeliling kami, membuat kami sangat menikmati perjalanan. Setelah tiga jam perjalanan tanpa istirahat kecuali saat kami semua mengisi bahan bakar yang sengaja diisi full tank untuk keamanan dan kenyamanan perjalanan, akhirnya kamipun dapat mencium udara pantai. Rasanya ingin sekali aku berdiri di atas motor untuk lebih merasakan angin pantai, namun itu terlalu berbahaya.

            Kamipun memilih singgah di pantai pertama yang kami lihat setelah pasar ikan, karena kami sudah terlalu lelah dan ingin segera berenang beriringan dengan ombak.

“Lapeeeeeeeer gileeeeeee gw!!!”, seru Edo sambil meregangkan tangan dan kakinya. Aku mengeluarkan sebotol air mineral, Edo mengeluarkan satu plastik buah salak yang dibawanya dari rumah beserta satu toples kue yang dicurinya dari ruang tamu rumah Mahdi. “Eh, tuh toples kudu balik ye! Emak gw ampe sms nih nanyain tu toples!”, seru Mahdi pada Edo yang sedang mengupas buah salak dengan semangat ’45. Setelah beristirahat beberapa saat, kami mengumpulkan uang untuk membeli nasi bungkus di warteg. Sayangnya, kami lupa bahwa semua harga di Pelabuhan Ratu pastinya lebih mahal dibanding harga di kota.

            Setelah uang terkumpul, aku dan Ii pergi mencari warteg. Ternyata, warteg terdekat saja jaraknya sekitar 1 km. Aku memesan sembilan nasi bungkus dengan lauk telur. Aku harus mengakrabkan diri dengan Ibu warteg untuk menawar harga dan mendapatkan sembilan bungkus teh pahit. Alhasil, aku harus menjinjing dua plastik hitam besar di tanganku. Namun, saat perjalanan pulang, motor kami terjatuh, untung saja kami berdua tidak terluka. Hanya saja, rasa ganjal dan perasaanku yang sejak awal tidak enak bertambah. Namun aku menampik perasaan itu. Aku pergi ke Pelabuhan Ratu, untuk bersenang-senang, untuk melepas stress, untuk melepas penat dan lelah mempersiapkan Big Camp selama ini.

            Ii mengendarai motornya lebih cepat karena ia sudah sangat lapar. Begitu kami sampai, semua langsung menyambar makanan yang kubawa. Mahdi dan Aril yang tadinya sedang menerapkan capoeira mereka di atas lembutnya pasir pantai pun langsung berlari untuk makan. Bodohnya, aku baru menyadari bahwa tasku tertinggal di warteg tadi! Aku langsung menarik Sony untuk menemaniku mengambil tas. Sony mengendarai motor dengan pelan karena ia lupa menggunakan jaket. Walau matahari bersinar dengan teriknya, namun udaranya tetap saja dingin. Untung saja tasku tetap utuh. Namun begitu ketika kami sedang dalam perjalanan kembali ke pantai, Edo menelpon dan meminta kami membelikan satu bungkus nasi lagi untuk Eci, karena nasinya tumpah.

            Aku dan Sony pun langsung memutar balik ke warteg tadi. Karena telurnya sudah habis, aku membelikannya ikan. Begitu sampai di pantai, aku melihat yang lainnya sudah asik berenang di pantai. Aku, Sony, dan Eci langsung duduk bersama di atas pasir pantai untuk menyantap nasi bungkus. “Lo suka ikan nggak, Ci? Tadi telurnya udah abis”, tanyaku.

Eci menggelengkan kepalanya dengan memelas, “Gw kurang suka ikan…”, ujarnya.

“Yauda, tukeran sama gw aja, Ci!”, ujar Sony.

Setelah bertukar lauk, kami pun mulai makan. “Anak-anak pada bawa baju ganti nggak tuh berenang kaya gitu?”, tanyaku bingung. Jujur saja, aku ingin sekali ikut berenang.

“Kagak, katanya ntar pada pengen basah-basahan aja. Hahaha…”, jawab Eci.

            Entah mengapa, rasa laparku yang tadi begitu menggelora tiba-tiba hilang. Sehingga aku tak sanggup menghabiskan makananku. Hal yang sungguh sangat jarang terjadi. Setelah meregangkan perutku sebentar, aku membulatkan tekadku untuk ikut berenang dengan yang lainnya. Sementara, Rivo, Eci, dan Sony lebih memilih pakaian mereka kering. Aku, Raty, Edo, Mahdi, Ii, dan Aril berjalan bergandengan tangan, menuju tempat yang lebih dalam untuk menikmati hempasan ombak. Kami beberapa kali tenggelam, namun tetap saja tak kapok menyambut ombak yang lebih besar. Walau kami terseret ke bagian dangkal lalu terseret kembali ke bagian dalam, kami tak melepaskan genggaman tangan kami. Tak berapa lama, Eci menghampiri kami, namun hanya di bagian dangkalnya saja. Kami semua dengan kompak menyeret Eci ke tengah hingga seluruh tubuhnya basah. Dia hanya tertawa sambil berkata, “Asin, keasinan, asin, keasinan!”

            Tak lama kemudian, Sony pun ikut bergabung dengan kami, sementara Rivo tetap memilih menjaga tas. Setelah puas melawan ombak, kami main lempar-lemparan pasir pantai yang basah. Kami semua saling berkejaran untuk melempar pasir. Tak terasa, sudah cukup sore, sehingga kami harus mengakhiri permainan kami. Setelah selesai membilas badan, kami semua berkumpul. “Woy! Kita foto yang terakhir yuk!”, seru Eci semangat. Kami semua pun berfoto untuk terakhir kalinya di Pelabuhan Ratu.

            Setelah itu, kami semua langsung berjalan bersama menuju tempat parkir. Aku memandang laut di Pelabuhan Ratu untuk terakhir kalinya. Saat perjalanan pulang, Soni mengendarai dengan kecepatan tinggi, kami dan motor seakan sudah menyatu dengan jalanan aspal. Kami kembali melewati jalan yang berlika-liku dengan pepohonan di sekitarnya. Setelah setengah jam perjalanan, ada sebuah ambulans lewat dengan membunyikan sirenenya. “Son, ada ambulans. Tandanya hati-hati!”, ujarku pada Sony. Saat itu Sony langsung memelankan lajunya. Lalu di sebuah tikungan, ada sebuah bus yang berjalan lambat, kami pun mendahuluinya. Aku dan Sony yang tadinya di urutan pertama, terkejar oleh Aril, kemudian Rivo, lalu Mahdi.

            “Son, ntar anterin gw sampe rumah ya! Soalnya gw basah gini!”, ujarku pada Sony. Sony pun mengiyakan, namun entah mengapa terlintas perasaan bahwa aku tidak akan pulang hari ini. Tak berapa lama, aku melihat sebuah motor di depan terpental karena menabrak mobil Zebra biru dari arah berlawanan. Dan dua penumpangnya terpental ke tengah jalan. Saat itu aku hanya bisa terpana. Itu temen gw? Itu temen gw? Mata kami semua terbelalak tak percaya. Baru saja Sony menepikan motornya, aku melihat sebuah motor dari arah berlawanan yang tidak sempat menginjak rem dan dengan kecepatan tinggi melindas tubuh Eci. Aku segera turun dari motor. Aku hendak menghampiri Rivo, namun mentalku tak cukup kuat untuk melihat tulang kaki kanan Rivo yang mencuat keluar. Semua disana panik. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku dan Mahdi mendampingi Eci di mobil menuju puskesmas terdekat. Aku menggenggam tangan Eci sepanjang perjalanan. Air mata hendak menetes. Namun tak kuasa keluar. Tak mungkin aku menangis di depan seseorang yang seharusnya kuberi semangat hidup. Darah terus keluar dari mulut Eci. Aku tahu itu berarti ada luka dalam yang cukup parah. Aku dan Mahdi mencoba mempertahankan kesadarannya.

            “Eci…lo kuat, Ci! Lo kuat, Ci! Lo bakal bae-bae aja, Ci!”, seruku dan Mahdi berulang-ulang. Sesampainya di puskesmas, Eci dan Rivo langsung dilarikan ke dalam. Namun aku merasa sangsi akan fasilitas disini. Aku dan yang lainnya hanya bisa duduk dengan wajah pucat pasi. Ingin sekali menangis namun rasanya tak kuasa. Kami masih sangat shock dengan apa yang terjadi. Tak berapa lama, Eci mengeluh kesulitan bernafas. Kami pun segera melarikannya ke rumah sakit yang terdekat dengan menggunakan angkot. Mahdi dan Sony yang menemani Eci ke rumah sakit. “De, itu temennya yang satu lagi kan cuma patah tulang, ntar dia mau dibawa ke bawah, ada yang bisa ngurutnya disini..”, ujar seorang Bapak yang tak kuketahui namanya.

            Seketika itu, emosiku langsung naik, “Pak, itu bukan cuma patah tulang biasa Pak! Itu patah tulang tungkai terbuka! Saya ngeliat sendiri Pak, tulangnya tadi mencuat keluar! Dia tetep kita bawa ke rumah sakit!”, seruku dengan nada sedikit membentak. Bapak itu mencoba mempertahankan argumennya, namun akhirnya aku yang menang. Kami segera melarikan Rivo ke rumah sakit, menyusul Eci. Ternyata jarak rumah sakit terdekat saja 45 menit dari puskesmas tersebut. Sepanjang perjalanan, Rivo terus-menerus menanyakan keadaan Eci. Begitu sampai di rumah sakit, aku tak peduli akan peraturan, aku menembus masuk ke dalam UGD. Aku mencari Mahdi, Sony ataupun Eci, namun tak satupun dari mereka terlihat batang hidungnya. Edo menitipkan handphonenya padaku karena ia hendak membantu perawat mengangkat Rivo. Aku melihat sekeliling, fasilitas disini sangat jauh dari memadai. Bahkan untuk pertama kalinya aku melihat rumah sakit yang seperti ini. RSUD Sekarwangi, Cibadak.

            Ada pesan masuk ke handphone Edo, karena aku takut itu pesan penting, aku membacanya. Pesan dari Mahdi.

“Demi Allah!!”

Aku tak mengerti apa maksud Mahdi, tapi perasaanku semakin tidak enak. Saat itu juga aku langsung mengambil handphoneku dan menghubungi Mahdi.

“Lo dimana?” , tanyaku khawatir.

“Lo dimana?”, Mahdi justru balik bertanya padaku.

“Gw di depan UGD!”

“Yauda, sekarang gw lari kesana!”

            Mahdi langsung menutup teleponnya. Tak berapa lama kemudian, bukan Mahdi yang muncul, melainkan Sony. Ia menghampiriku dengan nafas yang terengah-engah.

“Bil, ini….” Sony menyodorkan uang sejumlah Rp. 50.000,00 padaku. “Ini uang terakhir Eci. Sekarang Eci ada di belakang. Di kamar mayat. Kalo lo mau liat, lo…ke belakang aja..”

Aku hanya dapat tercengang mendengarnya. Lalu mengambil uang itu , dan menyimpannya rapi di saku jaketku. Masih terasa butiran-butiran pasir menempel pada uang itu. Lalu aku langsung berlari ke arah belakang rumah sakit. Saat berlari, air mataku mengalir dengan deras. Aku benar-benar tak percaya! Aku tak percaya! Di depan kamar mayat, banyak orang yang berkumpul mengelilingi, penasaran akan apa yang terjadi. Aku menghampiri Mahdi yang sedang diinterogasi polisi dan petugas rumah sakit.

            “Eci mana?”, tanyaku lemas.

“Dia lagi dimandiin Bil, di dalem”, jawab Mahdi. Kulihat mata Mahdi pun merah. Kelihatan sekali ia mencoba menahan air matanya. Aku memandangi pintu putih itu. Tak tahu harus bagaimana. Setelah beberapa saat, kami semua kembali berkumpul di depan UGD.

“Rivo, dia jangan dikasih tau dulu! Keadaan dia bisa tambah parah kalau tau Eci meninggal”, ujar Mahdi. Kami pun setuju dengan Mahdi. Kami kebingungan bagaimana menghubungi orang tua Eci, karena tasnya yang berisi handphone hilang di TKP. Akhirnya, kami meminta bantuan sekolah untuk menghubungi orang tua Eci. Kami membicarakan banyak hal, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Termasuk kemungkinan jika kami dikeluarkan dari sekolah, di penjara, di maki dan dituntut oleh orang tua Eci. Aku menengok sebentar ke dalam UGD untuk mengetahui kondisi Rivo. Kaki kanannya kini telah dipasangi bidai.

            Aku melihatnya sebentar dari jauh, kemudian menghampirinya. Dia menanyaiku bagaimana keadaan Eci. “Dia bae-bae aja ko..”, jawabku tanpa berani memandangnya. Setelah itu aku langsung ke luar ruangan. Aku takkan sanggup lagi membendung air mata jika ia bertanya lebih banyak hal. Aku kembali bergabung dengan yang lainnya.

                                                  ***

            Kami hanya dapat duduk di atas trotoar sambil menatap gelapnya langit. Kejadian itu terus-menerus terbayang dalam pikiran kami. Wajah kami semua sembab, pucat pasi dengan bekas sekaan air mata dipipi kami. Tak ada satupun diantara kami yang membuka mulut untuk berbicara. Kami semua terlihat seperti orang yang putus asa dan tak tahu harus berbuat apa lagi kecuali diam menundukkan kepala. Perlahan, langit mulai meneteskan air matanya. Tanda ikut bersedih.

            Aku bangkit lalu berjalan menuju masjid, mengambil air wudhu dengan perasaan yang campur aduk. Aku dapat merasakan dia di sampingku. Namun aku tak peduli, aku sangat ingin menenangkan diriku dengan shalat maghrib. Aku merasa tak dapat berkonsentrasi, bahkan dalam shalatku. Tiba-tiba saja aku tak tahu harus membaca apa dalam shalatku. Kejadian itulah yang justru selalu membayangi pikiranku. Tanpa membiarkan otakku untuk beristirahat sejenak.

            Selepas shalat, aku kembali ke bagian depan untuk bergabung dengan yang lainnya. “Udah shalat lo, Bil?”, tanya Raty saat aku duduk di sampingnya. Aku hanya dapat mengangguk dan membiarkan kepalaku bersandar di bahunya. Aku melihat handphoneku, low batt. Sementara ada dua panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang belum sempat kubaca. Aku membaca pesan itu sekilas lalu langsung menghapusnya. Aku melempar ringan handphoneku ke aspal. Termenung sebentar, lalu aku meraih handphoneku kembali. Aku mencari kontak di phonebook, “Mama”, lalu menekan tombol memanggil. Tak berapa lama, kudengar jawaban, “Halo, kamu dimana, Ka?”, suara lembut diwarnai kekhawatiran menyahut panggilanku.

            Aku membuka mulutku, namun tak ada suara yang keluar, aku tak sanggup bicara satu patah kata pun. Tetes demi tetes air mata kembali membasahi pipiku.

 “Ma….”, ujarku lirih.

“Kenapa Ka?”, suara Ibuku terdengar semakin khawatir.

“Temen aku…Temen aku kecelakaan, Ma. Paraaah…”

“Innalillahi…Trus sekarang mereka gimana, Ka? Kamu dimana sekarang?”

“Ma…Rivo, kaki kanannya…Patah tulang tungkai terbuka, Ma…”, Isakku semakin parah. Aku tak sanggup mengatakan hal itu. “Ma..yang satu lagi..”, aku diam sejenak untuk menghela nafas, pipiku sudah dipenuhi air mata. “Yang satu lagi meninggal, Ma…Eci meninggal…”, tangisanku semakin membuncah. Aku benar-benar tak kuat membendung air mataku.

“Meninggal? Innalillahi wa Innalillahi raji’un…”

“Ma, aku nggak akan pulang hari ini. Ma, udah dulu ya.. aku..”

            Pembicaraan pun terputus karena handphoneku mati. Aku menggenggam erat handphoneku. Aku bersandar pada dinding, karena yang lainnya juga sibuk dengan telepon masing-masing. Beberapa guru dan orang tua tak henti-hentinya menelpon. Bu Irma dan Pak Ramdhan pun tak hentinya menghubungiku tadi. Namun sekarang handphoneku benar-benar tak dapat dinyalakan. Aku benar-benar tak menyangka. Tadi terakhir kalinya Eci makan bersama kami. Aku tak menyangka, foto itu benar-benar menjadi foto terakhirnya. Aku tak menyangka, nasinya yang tumpah merupakan pertanda untuknya. Rasanya tak percaya! Benar-benar tak percaya! Ya Allah, aku sangat berharap terbangun dari mimpi buruk ini! Namun ini semua bukanlah mimpi. Rasanya tak percaya mengingat baru saja tadi sore kami main dan tertawa bersama. Namun kini, ia telah ditutupi kain kafan. Allah lebih menyanyanginya, sehingga memanggilnya lebih cepat.

 

                                                   ***

            Aku hanya dapat duduk termenung menatap keluar jendela. Remang-remang cahaya dan suara lalu lalang kendaraan, menghempas sepinya malam. Malam yang gelap dan terasa sangat panjang. Kini aku sedang duduk disebuah ambulans menuju ke Bogor. Wajahku pucat pasi, dengan mata sembab. Berusaha tak meneteskan air mata walaupun bayangan kejadian itu terus membayangi pikiranku. Rivo yang tadi sibuk dengan handphonenya, kini telah terlelap, terkadang ia meringis karena sakit di kakinya. Sebelumnya, beberapa kali ia menanyakan tentang Eci padaku. Setiap kali menjawabnya, aku mencoba untuk tersenyum dan mengatakan bahwa Eci baik-baik saja dan sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Ingin sekali rasanya aku dapat tertidur saat ini, lalu terbangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. Namun setiap kali kupejamkan mata, kembali terbayang saat motor mereka terpental dan tubuh Eci terlindas.

            Perjalanan ke PMI Bogor terasa sangat panjang. Begitu sampai di depan UGD, aku melihat beberapa orang telah menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran. Namun aku tak tahu yang mana orang tua Rivo. Aku turun dari ambulans. Seorang wanita langsung menghampiri Rivo, kupikir mungkin itu Ibunya. Seorang wanita setengah baya menghampiriku. “Kamu temennya Rivo? Ikut kesana juga?”, tanya wanita itu. Aku hanya menganggukkan kepala. “Nama kamu siapa?”, tanyanya lagi.

“Nama saya Nabila”, jawabku singkat.

“Kejadiannya gimana? Oh iya, saya Tantenya Rivo”, wanita itu merangkul pundakku, lalu mengajakku menjauh dari ambulans. Aku pun menceritakan kronologis kejadian yang kulihat. Wanita itu menutupi wajahnya kemudian menangis.

“Lalu gimana keadaan anak yang diboncengnya?”, tanya wanita itu lagi. Aku menghela nafas. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata. “Maaf Tante, masalah itu, lebih baik nanti kita bicarakan bersama-sama kalau semua anggota keluarga sudah berkumpul. Saya nggak bisa ngasih tau sekarang”, ujarku mantap. Aku sudah sangat lelah, sehingga tak ingin memberikan penjelasan berulang-ulang. Lagipula jarakku dan Rivo tak begitu jauh, aku tak mau ia mendengarnya. Setidaknya, belum saatnya ia mengetahui bahwa Eci telah tiada.

            Aku dipanggil oleh seorang wanita lainnya, lalu ia memperkenalkan diri sebagai Ibu dari Rivo. Seorang perawat menghampiriku untuk mendapatkan keterangan mengenai kronologis kejadian. Ia bertanya tentang kecepatan kendaraan Rivo dan kecepatan mobil yang menabraknya. Lalu pertolongan pertama yang diberikan. Selang waktu dari kecelakaan hingga Rivo mendapatkan pertolongan pertama. Tak berapa lama, barulah Rivo dimasukkan ke dalam UGD. Katanya ia akan segera dirontgen. Aku duduk di samping Ibunya di ruang tunggu. Wajahnya yang tirus terlihat pucat. Seluruh keluarga Rivo disana mengelilingiku, menanyakan kronologis kejadiannya. Kupikir, inilah saat yang tepat untuk memberitahu mereka mengenai keadaan Eci. “Gimana keadaan yang diboncengnya? Lebih parah mana sama Rivo?”, tanya Ibu Rivo.

            Aku mencoba menahan air mata, namun tak kuasa. Air mata menetes terlebih dahulu sebelum keluar satu patah kata pun dari bibirku. Melihat itu, mereka sepertinya dapat menebak bahwa keadaannya lebih parah. “Yang diboncengnya…”, aku menghela nafas dan menyeka air mataku. “Meninggal…”, aku kembali terisak. Aku menundukkan kepalaku, tak kuasa menatap  wajah mereka. “Dia, kesulitan bernafas, dia meninggal nggak berapa lama begitu tiba di rumah sakit”, aku tak sanggup lagi. Aku takkan sanggup menjawab jika mereka lebih banyak bertanya lagi. Seorang wanita menyodorkan air mineral padaku. Mereka memaksaku untuk minum, namun aku tak dapat menelan apapun saat ini. Aku hanya meneguknya sedikit karena merasa tidak enak.

            Aku terdiam beberapa lama, entah menunggu apa. Aku sangat khawatir dengan keadaan teman-temanku yang lain disana. Aku menghampiri bagian pendaftaran, meminta izin untuk mengisi baterai handphoneku. Untunglah Bapak itu baik, dan mengizinkanku. Benar saja, begitu kunyalakan handphoneku, beberapa pesan masuk sekaligus. Dan beberapa panggilan masuk yang tak dapat kujawab. Tak berapa lama, Bu Irma mengehubungiku, aku langsung menceritakan padanya bahwa kini Rivo sudah di PMI Bogor dan aku menemaninya. Bu Irma merupakan Wali Kelas Rivo, jadi wajar saja beliau mengkhawatirkannya. Setelah itu, aku menghubungi Mahdi. Ternyata pihak sekolah belum juga sampai kesana. Dan disana mereka masih diam menunggu.

            Aku terus-menerus melirik jam didinding, jam besar yang tepat di atas pintu masuk UGD. Namun aku tak tahu apa yang kutunggu. Sekitar dua jam aku duduk di ruang tunggu. Lalu Ibu Rivo merangkul pundakku dan mengatakan bahwa Rivo sudah dipindahkan ke ruang perawatan di ruang VIP lantai tiga. Kami semua berjalan menembus gelap dan sepinya rumah sakit. Lalu kami masuk ke kamar Mawar 304. Kudengar, Rivo akan dioperasi pukul 10.00 besok pagi. Semua keluarga Rivo berpamit pulang padaku. Sehingga hanya aku dan Ibunyalah yang menemani Rivo. Aku harus tetap disini, sampai teman-temanku yang lainnya datang kesini. Kemungkinan mereka akan datang pukul 01.00 dini hari nanti.

            Aku duduk di kursi, tepat di sebelah tempat tidur Rivo.

“Lo bakal bae-bae aja ko, Vo”, ujarku mencoba memberinya semangat.

“Bil, masa  ada yang sms gw, dia bilang Eci meninggal. Nggak bener kan, Bil?”, tanya Rivo cemas. Aku tercengang mendengarnya. Ya Allah, secepat itukah beritanya menyebar? Seharusnya aku menyita handphone Rivo sejak tadi, aku tak memperhitungkan kemungkinan ini. “Ah, enggak ko! Ngaco tuh berita! Gw kan disana, Vo! Enggak ko! Eci bae-bae aja! Lo tenang aja, Vo”, jawabku dengan memasang wajah semeyakinkan mungkin. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Membuatnya tertawa, mencoba membuatnya tak lagi berpikir masalah Eci. Tentunya semua itu sangatlah sulit bagiku! Hati ini sudah berteriak dan menangis sejak tadi! Tak berapa lama, aku langsung mengundurkan diri dari pandangan Rivo. Aku sengaja pindah dan duduk dibalik gorden, sehingga aku maupun Rivo tak dapat bertemu pandang.

            Air mata kembali mengaliri wajahku. Namun aku langsung menyekanya. Aku tak mau Rivo nantinya dapat membaca kebenaran dari wajahku. Aku menundukkan kepalaku. Ibunya menyuruhku merebahkan tubuh dan beristirahat. Namun bagaimanapun aku tak bisa tidur. Memejamkan mata pun aku tak berani. Aku terlalu takut menghadapi semua ini. Aku melewati malam yang terasa panjang ini. Pukul 04.00 pagi, Sony menghubungiku dan mengatakan bahwa mereka semua sudah dilantai bawah. Aku turun ke bawah ditemani Ibu Rivo, kami memilih melewati tangga, karena lift di PMI sangat menyeramkan. Saat di tangga terakhir, aku dapat melihat Pak Purbiyatno, Pak Dahlan, Pak Asep, Pak Ruspita, Pak Ahmad, dan beberapa orang lagi. Aku langsung menghampiri Sony dan Edo saat Ibu Rivo berbicara dengan guru-guru. “Bil, lo udah makan?” , tanya Sony. Aku hanya menggelengkan kepala. “Udah tidur?”, tanyanya lagi. Aku kembali menggelengkan kepala. “Lo nginep di rumah gw aja ya, Bil!”, ujar Sony. Aku hanya diam. Aku tak peduli sekarang aku mau kemana.

            Aku, Ibu Sony, Sony, dan Edo berpamit untuk pulang lebih dulu. Setelah berpamitan, kamipun berjalan ke tempat parkir. Dinginnya udara pagi menusuk-menusuk tubuhku. Begitu sampai di rumah Sony, ia menyuruhku beristirahat di kamarnya, sedangkan ia tidur di kamar lain. Namun aku tak dapat tidur maupun memejamkan mataku. Aku tak berani. Ingin sekali rasanya saat ini aku dipeluk oleh Ibuku. Aku tak ingin sendirian. Aku takut. Jam sudah menunjukan pukul 04.30. Aku hanya merebahkan badan, namun tak berani memejamkan mata. Aku hanya dapat menangis. Tak terasa waktu pun berlalu. Pagi itu, kami semua langsung berangkat ke kediaman Eci di Menteng. Hanya sedikit makanan yang bisa masuk ke perutku. Dengan masih memakai pakaian yang sama, pakaian yang tadinya basah, kini sudah kembali kering, kami pun berangkat. Begitu sampai di Menteng, sudah banyak siswa dengan seragam batik di sekeliling rumahnya. Saat kami datang, semua pandangan tertuju pada kami. Aku hanya menundukkan kepala. Setelah memarkir motor, aku tak peduli dengan pandangan orang-orang. Saat hendak masuk ke rumahnya, kami ditanyai oleh seorang guru mengenai kronologis kejadian, kami hanya menjelaskan secara singkat.

            Pak Ahmad menghampiriku, “Bila, kamu udah pulang belum?”, tanyanya khawatir. Aku hanya menggelengkan kepala. “Abis ini istirahat ya! Nggak usah sekolah”, ujar Pak Ahmad. Setelah selesai memberikan keterangan, kami berjalan masuk ke rumahnya. Kami dapat merasakan semua mata tertuju pada kami. Aku tak sanggup melihat tubuh Eci yang kini telah diselimuti dengan kain kafan. Air mataku kembali menetes. Lalu aku beranjak keluar, mencoba mencari Ibuku. Begitu aku melihat sosok Ibuku, aku langsung berlari dan memeluknya. Aku hanya dapat menangis dipelukannya. Kemudian aku kembali ke dalam rumahnya bersama Ibuku. Aku duduk dan ikut membacakan Surat Yasin bersama yang lainnya. Namun baru sebentar, jenazahnya sudah harus dibawa. Aku hanya dapat menangis. Kakiku terasa lemas begitu mobil jenazah membunyikan sirenenya dan pergi berlalu. Jenazahnya akan dimakamkan di Jambi. Aku menghampiri seorang pria setengah baya, salah satu keluarga Eci.

            Aku mengeluarkan uang Rp.50.000,00 terakhir milik Eci yang sejak tadi malam tersimpan di sakuku. Aku masih dapat merasakan butiran-butiran pasir pantai diuang itu. Aku memberikannya pada pria itu. “Pak, ini…”, aku menyodorkan uang itu. “Ini uang terakhirnya Eci.  Ada di sakunya. Saya yang nyimpen saat ia dimandikan”, ujarku lirih. Pria itu pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Aku kembali bergabung dengan teman-temanku yang lain. Kami semua hanya tertunduk dan menangis. Tak berapa lama, kamipun meninggalkan rumah Eci dan beranjak ke sekolah.

 

                                                   ***

 

            Kini, tak terasa sudah tiga tahun  Eci pergi ke atas sana, meninggalkan kami semua disini.  Karena itu merupakan saat Eci pergi meninggalkan kami. Patah tulang lengan, tulang kaki, dan patahnya tulang rusuk yang menembus paru-parunya dan membuat paru-parunya bocor dan penuh dengan darah, serta penyempitan jantung dikarenakan patahan tulang rusuk yang menusuk jantungnya. Semua itu yang menyebabkan Eci tak dapat bertahan.

            Kami semua sempat patah semangat hidup. Dan Eci terus-menerus muncul dalam setiap mimpi kami. Di mimpi, Eci menuliskan puisi dalam sebuah buku. Kalimat terakhir dari puisi itu,

 

Lanjutkanlah hidup kalian

Umur kalian masih panjang

 

Puisi itu membuat kami dapat mengikhlaskannya. Membuat kami dapat tersenyum dan tertawa lagi. Takkan pernah kami lupakan, tawa renyahnya. Takkan pernah kami lupakan semua kenangan tentangnya. Kami takkan pernah melupakanmu, Desiska Rachmayati. Selamat tinggal! Eh, salah! Sampai jumpa! Kami semua pasti akan menyusulmu! Tunggu kami ya! Kami semua sayang Desiska Rachmayati!

blog comments powered by Disqus